kali ini saya harus berterimakasih pada satu-satunya tempat fotokopi yang buka 24 jam di Jogja. Mengapa tidak? karena saya tidak punya ide, kemana saya akan pergi menjilid laporan di pagi hari.

Perjalanan saya mencari tempat fotokopi dimulai dari googling dengan kata kunci “fotokopi 24 jam di Jogja.” Saya melihat di sebuah hasil pencarian, seorang bertanya di forum dimana ada tempat fotokopi yang buka 24 jam, karena ia mau sidang tesis keesokan harinya. Mulanya saya melihat di kaliurang km.5. Hmm masuk akal karena dekat kompleks perguruan tinggi. Lalu ada hasil pencarian yang menyebutkan di dekat selokan mataram, gejayan. Nah ini saya tidak tahu persisnya. Terakhir saya bertanya pada teman yang orang Jogja, jawabannya adalah di jalan brigjen katamso, di daerah buana.

Berbekal peta yang saya beli seharga Rp12.500, mulailah saya menyusuri jalan-jalan di Kota Jogja. Pertama dimulai dari saran teman tadi, Brigjen Katamso. hasilnya nihil karena mungkin juga sedang hujan, mata saya kurang awas. Tapi saya yakin tidak ada. Kedua ke jalan selokan mataram, tidak ketemu dimana jalan itu, yang saya tahu masuknya dari jalan gejayan. Ketiga, saya nekat masuk ke jalan kaliurang, saya sudah berpikir buruk, saya tidak akan pulang sebelum laporan dijilid, bisa-bisa terlambat jadwal2 selanjutnya.

Satu papan nama yang tertulis “Fotokopi 24 jam”, itulah yang membuat hati ini senang. Pukul 2 dini hari, saya menunggunya sembari memesan indomie, untuk mengisi perut saya yang dari malamnya tidak terisi apa-apa. Sekali lagi bersyukur pada indomie yang tidak ditarik dari peredaran. Ditempat fotokopian ini, saya merasa seperti masa-masa mahasiswa, sebab saya melihat ada diktat/modul yang difotokopi, bahkan ada rumus-rumus kimia yang difotokopi diperkecil.  Dalam hati kecil saya, mahasiswa kok nggak ada berubah, ini metodologi pembelajaran yang salah atau mahasiswanya yang terlalu takut nilai jeblok, atau dosen yang nggak waras? Ah entahlah…saya kadang merasa terlalu repot memikirkannya. Toh nilaipun tidak merupakan suatu jaminan atas suatu kepintaran, namun sayangnya selalu menjadi alat ukur yang mematikan.

Jilidan saya selesai, saya kembali berkemas kembali ke penginapan seraya menikmati udara segar karena baru diguyur hujan. Apa yang bisa kita lakukan hanya bersyukur. Dengan itu, melatih diri untuk senantiasa berserah. Terimakasih Tuhan. Engkau sungguh baik.

@hws02112010

Advertisements