Inilah hidup.

Saya berada (kembali) di JCC. JCC bukan lagi menjadi tempat yang asing bagi saya. Di sekitar pertengahan tahun 2001, saya sudah mengenal tempat ini. Saat itu suatu keberuntungan bagi saya sebagai salah satu mahasiswa baru yang terpilih menjadi anggota paduan suara wisuda di salah satu kampus plat merah di kawasan Bintaro (alih-alih tidak mau dibilang daerah banten). Dari kepanitiaan itulah saya mengenal bahwa JCC terutama di plenary hall sebagai tempat wisuda. Baru setelahnya saya mengetahui bahwa tempat ini sebagai tempat konser dan sebagainya. Ternyata saya berjodoh untuk terus menjadi anggota paduan suara wisuda untuk tahun berikutnya. Tahun 2002 dan 2003. Bahkan di tahun 2003, saya menjadi ketua paduan suaranya.

Jadi, dengan berbekal sebagai panitia/anggota paduan suara, hampir tiap tahun saya masuk ke JCC. Mulai dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2003. Tugasnya yaitu sebagai pengiring lagu-lagu wisuda. Lewat pengalaman itu dan pengalaman selanjutnya, saya masuk ke JCC (Plenary hallnya) adalah dalam rangka wisuda. Jika 2001 s.d. 2003 sebagai anggota paduan suara wisuda, tahun-tahun berikutnya saya sebagai peserta wisuda itu sendiri.

Hampir tiap saat memasuki ruang plenary hall sebagai peserta wisuda, rasa haru menyeruak dalam hati. Tahun 2004, ketika diwisuda sebagai Ajun Pajak (nama keren lainnya Ahli Madya), saya mengingat kembali masa-masa PKL, pembuatan laporan, serta sidang. Demikian juga pada tahun 2006, ketika saya diwisuda menjadi sarjana ekonomi. Saya mengingat masa-masa di tengah penugasan pun saya sempatkan mengerjakan skripsi serta membuat janji bimbingan dengan dosen yang juga merupakan Dekan, beliau sibuknya luar biasa. Dan terakhir (?), tahun 2013 yang lalu. ketika saya diwisuda program magister. Ini benar-benar momen yang paling saya ingat. Saya menyelesaikan tesis dengan agak tersendat. Di tengah berbagai keputusan yang mengubah jalan hidup, saya berjibaku mengerjakan tesis, menghadapi sidang, serta melakukan revisi. Saya hanya beruntung, dikelilingi orang-orang yang baik hati, mendukung dan memberi semangat. Hampir di tiap wisuda itu hadir orang-orang dekat saya: Bang Ronald, Ezron, dan Bapak saya. Sungguh itu merupakan bagian hidup saya yang tak akan saya lupakan.

Sebuah pertanyaan kecil dari teman saya lewat chat: “Bang, sudah lulus kan?, kok nggak ada berita-beritanya?” Jawaban saya kepada teman saya, ” kadang kala wisuda di JCC membuat saya sedih” “Kenapa sedih?” tanyanya kembali.

Sesungguhnya bukanlah sedih. Tetapi saya mengingat kembali seraya sedih. Sebab saya tahu bahwa semua proses pencapaian-pencapaian di atas bukanlah karena saya pintar atau jenius. Hal itu terbukti dari nilai-nilai saya yang tidak bagus-bagus amat. Dalam benak saya hanyalah harus selesai! dan sepertinya menuju ke proses pembuatan laporan, skripsi, maupun tesis, tidak pernah mulus. Selalu saja ada hambatan dan semangat yang kadangkala jatuh.

Namun, sesungguhnya untuk apa saya bersusah-susah melakukan itu semua? untuk diakui? untuk aktualisasi diri? atau untuk apa? saya sendiri bingung menjawabnya. Dalam prosesnya, saya menyenangi apapun namanya belajar. Ketika memandang toga, saya teringat kepada orang yang berjuang agar saya bisa bersekolah tinggi. Muncul pertanyaan di benak saya, apakah memang benar ada Hukum tabur-tuai? apakah orang yang menabur selalu menuai? atau ada yang menabur, ada yang menuai?

Tatkala saya teringat apa yang dikatakan bapak saya:

“Mama dulu cerita sama bapak. Udah kuantarkan abang kuliah. Tapi tidak akan kulihat dia wisuda.”

IMG_20131117_132622

Dan bulir air terjun bebas.

 

Helvry

draft tulisan 17.11.2013, finishing 15.08.2014

Advertisements