Apa yang Anda pikir berharga dalam hidup Anda?
Kadangkala ada baik dan ada tidak baiknya melihat situs jejaring sosial. Bagi saya, mengikuti salah satu atau salah dua situs tersebut hanya untuk mengikuti tren, mengamati, menimbang-nimbang, lalu kembali ke kehidupan riil. Baiknya adalah, saya dapat terhubung kembali dengan kawan-kawan lama yang dulu belum zamannya telepon seluler apalagi internet sedang marak. Beberapa teman juga mengunggah foto-foto zaman dulu yang mengingatkan masa-masa dimana saya kecil dan bersekolah. Dalam angan saya juga teringat beberapa peristiwa yang terkait dengan foto yang diunggah tersebut.

Kurang baiknya apa ya? hahaha. Macamlah. Saya kadangkala tidak meyakini sepenuhnya bahwa apa yang diposting di jejaring sosial seperti Facebook atau Path atau Instagram merupakan keadaan yang sebenar-benarnya. Tapi perkara benar atau bukan, itu bukanlah urusan saya. Urusan saya adalah bagaimana sikap dalam membaca lini masa yang dibagikan oleh teman-teman saya. Ada yang memposting status berada di suatu tempat, makan seseuatu, bersama sesuatu, memiliki sesuatu yang baru, menyandang status baru, dan membagikan kembali status baru dari temannya teman. Sesungguhnya ini yang menggelisahkan. Saya takut tidak berbuat apa-apa. Saya takut hanya menjadi “korban” bacaan status-status tersebut. Saya takut hanya  membaca status “sampah”.

Entah kenapa saya ingin sekali mengajar. Sepertinya terlalu heroik, berbagi. Saya menyadari di usia yang tidak lagi muda, saya harus berbuat sesuatu. Segera. Saya coba menekuni kembali aktivitas menulis review buku, atau menulis paper-paper tugas kuliah yang dahulu saya banggakan. Kadangkala telah berbuat itu memunculkan rasa puas. Puas karena ada waktu yang diluangkan untuk menyeimbangkan tugas rutin. Bagaimanapun saya tidak mungkin menafikan tugas penulisan yang menafkahi saya.

Itu saja. Semoga saya bisa konsisten mengerjakannya.