Hampir dalam setiap kesempatan bertemu dengan teman-teman saya, saya sering membagikan bahwa sangat menyenangkan memiliki suatu komunitas. Terlepas apakah komunitas itu sifatnya dalam jaringan atau luar jaringan, komunitas merupakan wadah bagi kita untuk berekspresi dan menyeimbangkan kehidupan yang rutin. Dan komunitas yang saya banggakan adalah BBI, dimana saya dapat bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman pencinta buku dan blog. Dua dunia yang saya jadikan “pelampiasan kreatif” atas kehidupan yang keras ini (lebay).

Hari Sabtu, tanggal 9 Januari 2016 lalu, saya berkesempatan mendapat penugasan ke Medan. Sebelumnya saya sudah menyampaikan kepada Evyta, bahwa saya akan berada di Medan akhir pekan ini. Respon langsung cepat. Saya juga menghubungi teman saya, Ramses, untuk mempertemukan BBI Medan dengan Manager salah satu toko buku terkenal. Tadinya kami berencana bertemu di Plaza Medan Fair, namun, karena saya sudah ada jadwal ke Tebingtinggi sore itu, Ramses tak dapat bergabung dan kami mengubah tempat pertemuan di Dunkin Donut Stasiun Besar Medan.

Kurang lebih pukul 13.00 saya sudah dikabari Evyta bahwa ia dan Putri sudah tiba di lokasi, dan sayapun menyusulnya. Seperti kami sudah saling kenal saja. Pembicaraan antara kami seolah sudah nyambung. Padahal saya baru  kali pertama bertemu Evyta, dan kali kedua bertemu Putri. Interaksi saya dan mereka selama ini hanya melalui media Whatapps. Namun, kami semua sepakat bahwa namanya kopi darat atau bertemu langsung tidak tergantikan, mungkin di sinilah hakikatnya manusia sebagai sesama, bahwa melihat dan berinteraksi langsung dengan sesama tak akan tergantikan. Ekspresi lebih terlihat jujur dibanding emoticon yang diproduksi oleh aplikasi chatting.

Diskusi kami berlanjut pada apa pengalaman-pengalaman dalam hal membaca dan ngeblog. Putri membagikan ceritanya bahwa dibandingkan ketika ia di Maluku Utara, kedisiplinan mereview buku saat ini menurun. Ia menceritakan bahwa ketika ia bertugas nun jauh di sana, ia memiliki target-target buku yang akan dibaca serta jadwal kapan akan direview. Sebenarnya hal serupa ia terapkan di Medan, namun karena kesibukan dan hal lainnya tidak dapat semilitan ketika di Halmahera. Satu hal yang dapat saya petik dari pengalamannya adalah penggunaan aplikasi Google Keep yang dapat diunduh dari playstore,  merupakan aplikasi yang dapat digunakan untuk menulis apa saja dari gadget yang terintegrasi dengan google drive. Hal ini-menurut Putri- mengatasi masalah kapan dan dimana harus mengetik. Bagi saya ini luar biasa, karena kendala yang saya alami adalah mengetik harus di laptop dan harus terkoneksi ke internet. Putri juga menambahkan bahwa ketika perjalanan menuju Stasiun, ia menyelesaikan satu review selama di angkot. Luar biasa.

Evyta berbagi juga dengan pengalaman ngeblognya. Bahwa kadangkala apa yang kita anggap biasa dalam hal perblog-an misalnya dengan coding html sederhana maupun mengganti template, bagi sebagian blogger (buku) itu adalah hal luar biasa. Untuk itu saya menyarankan agar ke depan muatan kopdar di Medan diisi dengan pelatihan-pelatihan sederhana tentang penggunaan aplikasi perpustakaan Senayan Library atau pelatihan ngeblog for dummies. Hal ini baik agar tiap event kopdar ada nilai tambah bagi teman-teman lainnya.

Diskusi kami lainnya tentang kondisi pasar buku di Kota Medan. Saya sendiri baru tahu bahwa harga buku di toko buku G di Medan rata-rata lebih mahal dibanding buku di kota lain (terutama Jawa). Hal ini yang menyebabkan belanja buku secara online lebih menarik. Namun masih terkendala pada ongkos kirim yang lumayan mahal ke Medan. Selain itu tentang berpindahnya pedagang buku di Titi Gantung ke area Jalan Pegadaian, juga disinyalir pihak pedagang buku menjadi penyebab turunnya omset penjualan mereka, karena lokasinya yang kurang strategis dilalui angkutan umum. Dari lokasi kami, terlihat ada kios kios yang baru dibangun dalam kompleks Lapangan Merdeka, menurut Evyta, bangunan tersebut direncanakan menjadi tempat pedagang buku, namun sudah setahun tidak ada perkembangan. Beberapa pedagang juga masih bertahan di lokasi Titi Gantung.

Demikian beberapa topik yang kami diskusikan, ada beberapa hal yang saya lupa, namun pertemuan dua jam kurang lebih tersebut menjadi berarti buat saya sendiri.

image

akhir pertemuan kami berfoto. Berhubung mbak mbak Dunkinnya-nan cantik namun terlihat judes- gagal mengambil gambar terbaik, akhirnya kami minta tolong salah seorang petugas di stasiun untuk mengabadikan perjumpaan kami.

image

Semoga satu saat saya berkunjung lagi, bisa dengan teman-teman yang lebih ramai.

Bandung, 13 Januari 2016.