Percaya tidak percaya, kadang kala kehadiran gadget membuat saya menjadi tumpul dalam berkreasi. Sebenarnya bukan masalah gadgetnya, Tetapi aplikasi-aplikasi yang ada di dalamnya. Maraknya media sosial, ternyata membuat kita tidak bersosial lebih baik. Hanya tampak mapan di media sosial, tidak tau seperti apa di dalamnya.

Suatu kali saya membaca di Majalah Tempo sebuah ulasan tentang buku kuasa Jepang di Jawa pada masa pendudukan mereka di Indonesia. Buku itu ditulis oleh orang Jepang sendiri. Dalam artikel itu diceritakan bahwa penulisnya mendapat tekanan dari negerinya dan dituduh sebagai ekstrim kiri. Namun, buku yang merupakan disertasinya itu tetap eksis keluar sebagai sebuah karya. Ia mewawancarai ratusan orang, membaca ratusan (barangkali ribuan) referensi. Dan ketekunan serta kerja keras yang konsisten menghasilkan sebuah karya yang dapat bermanfaat bagi banyak orang.

Disitu saya merenungkan, bahwa seringkali kita tidak patuh dan konsisten pada proses. Kita termanjakan dengan bacaan-bacaan dangkal di media online, cuitan, quote-quote yang dipublikasikan dalam bentuk teks atau image, tanpa menggali kedalaman pengetahuan dan makna. Saya sendiri pernah memerhatikan orang di sebelah saya saat di angkutan umum, yang membuka layar hpnya lalu membuka-buka foto profil teman-temannya. Meski tidak mewakili secara keseluruhan, namun gejala bahwa kita “terbiasa” dengan sesuatu yang baru dan segera berlalu, itu sudah terjadi. Seberapa banyak buku yang kita baca untuk menunjang cara berpikir dan wawasan yang lebih luas?