Olah angka, olah mata

Dari dulu saya tertarik dengan data berupa angka-angka. Bagi saya, angka-angka tidak bisa bohong. Karena itu, ketika dulu saya ditugaskan dalam suatu audit, saya lebih menyenangi menelusuri angka, ketimbang harus berkutat dengan detil-detil klausul kontrak ataupun mengonfirmasi.

Tapi itu dulu. Perkembangan selanjutnya menuntut hal lain. Saya dihadapkan dengan situasi yang berbeda. Perubahan organisasi dan perkembangan teknologi mau tak mau harus saya ikuti agar tak terlindas zaman. Kali ini yang menarik perhatian saya adalah terkait perlogistikan. Kenapa? logistik itu ibarat beras di rumah yang tak boleh habis. Anda dapat bayangkan bila beras habis, bisa-bisa rusuh di rumah.

Sejujurnya saya masih jauh di bawah amatir. Apa saya pelajari secara instan adalah bahan-bahan dari internet. Satu hal lagi. Saya menyenangi gambar. Saya menyukai sesuatu yang sifatnya visual, karena dari situ saya dapat berimajinasi. Emang dari kecil sukanya ngelamun sih, hihihihi. Dari angka kemudian menjadi grafik.

image

gambar nyalin dari internet (lupa linknya apa)

Tapi jeleknya adalah saya suka ngoprek-ngoprek seperti ini sewaktu ada penugasan. Makanya kadang udah ngopreknya seru (dan tentu saja lama), muncul rasa bersalah.

Mungkin bagi sebagian orang, ini tidak mengasyikkan. Yah tapi sekali lagi, ini hanya untuk memenuhi hasrat ingin tahu saya saja. Jeleknya kadang hanya saya catat, dan bukunya keselip entah dimana.

image

tcode logistic for SAP Material Management

Biar untuk ke depannya, saya komit untuk menuliskannya (disini), supaya gampang dicari, maklum saya pelupa :))

Advertisements

Yang berharga

Apa yang Anda pikir berharga dalam hidup Anda?
Kadangkala ada baik dan ada tidak baiknya melihat situs jejaring sosial. Bagi saya, mengikuti salah satu atau salah dua situs tersebut hanya untuk mengikuti tren, mengamati, menimbang-nimbang, lalu kembali ke kehidupan riil. Baiknya adalah, saya dapat terhubung kembali dengan kawan-kawan lama yang dulu belum zamannya telepon seluler apalagi internet sedang marak. Beberapa teman juga mengunggah foto-foto zaman dulu yang mengingatkan masa-masa dimana saya kecil dan bersekolah. Dalam angan saya juga teringat beberapa peristiwa yang terkait dengan foto yang diunggah tersebut.

Kurang baiknya apa ya? hahaha. Macamlah. Saya kadangkala tidak meyakini sepenuhnya bahwa apa yang diposting di jejaring sosial seperti Facebook atau Path atau Instagram merupakan keadaan yang sebenar-benarnya. Tapi perkara benar atau bukan, itu bukanlah urusan saya. Urusan saya adalah bagaimana sikap dalam membaca lini masa yang dibagikan oleh teman-teman saya. Ada yang memposting status berada di suatu tempat, makan seseuatu, bersama sesuatu, memiliki sesuatu yang baru, menyandang status baru, dan membagikan kembali status baru dari temannya teman. Sesungguhnya ini yang menggelisahkan. Saya takut tidak berbuat apa-apa. Saya takut hanya menjadi “korban” bacaan status-status tersebut. Saya takut hanya  membaca status “sampah”.

Entah kenapa saya ingin sekali mengajar. Sepertinya terlalu heroik, berbagi. Saya menyadari di usia yang tidak lagi muda, saya harus berbuat sesuatu. Segera. Saya coba menekuni kembali aktivitas menulis review buku, atau menulis paper-paper tugas kuliah yang dahulu saya banggakan. Kadangkala telah berbuat itu memunculkan rasa puas. Puas karena ada waktu yang diluangkan untuk menyeimbangkan tugas rutin. Bagaimanapun saya tidak mungkin menafikan tugas penulisan yang menafkahi saya.

Itu saja. Semoga saya bisa konsisten mengerjakannya.

Kopi darat dengan BBI Medan

Hampir dalam setiap kesempatan bertemu dengan teman-teman saya, saya sering membagikan bahwa sangat menyenangkan memiliki suatu komunitas. Terlepas apakah komunitas itu sifatnya dalam jaringan atau luar jaringan, komunitas merupakan wadah bagi kita untuk berekspresi dan menyeimbangkan kehidupan yang rutin. Dan komunitas yang saya banggakan adalah BBI, dimana saya dapat bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman pencinta buku dan blog. Dua dunia yang saya jadikan “pelampiasan kreatif” atas kehidupan yang keras ini (lebay).

Continue reading

Kopi darat BBI Bandung

Tags

Setelah sekian lama tak pernah ngumpul, akhirnya bersama teman-teman Blogger Buku Indonesia (BBI) di Bandung, kami berkumpul lagi. Ide awal ngumpul sebenarnya dalam kaitannya mau memanfaatkan momen sehabis lebaran dan menyampaikan buku hasil lelang di grup facebook BBI bulan lalu.

Kami berkumpul di The Kiosk Balubur Town Square. The Kiosk Baltos ini merupakan tempat pertama BBI Bandung menyelenggarakan kopi darat. Berhubung Aul cuma tinggal naik eskalator ke sini, Maryana juga bisa mencapainya dari Ujung Berung dengan mudah, Sabrina dan Anastasia juga bisa, diputuskan kembali The Kiosk menjadi tempat bertemu.

Janji pertemuan ditetapkan pukul 16.00, saya sendiri baru di tempat sekitar pukul 17.40 dan menjadi orang kelima (terakhir) yang tiba. Diskusi berlangsung hangat. Dari kami berlima, hanya Anastasia dan Aul yang masih kuliah. Aul sedang menjalani program semester pendek,  sedangkan anastasia memilih liburan dibanding mengambil semester pendek. Topik diskusi antara lain, novel apa saja yang sedang ngetrend di dunia perbacaan, lalu bergantian menceritakan tentang novel/buku yang sedang dibaca. Saya sendiri meminta nasihat buku apa yang direkomendasikan untuk saya baca, namun sampai pulang tidak ada rekomendasi yang saya dapatkan, karena akhirnya diskusi berlanjut melebar entah kemana, hahaha.

Topik lainnya adalah bagaimana proses menulis buku, mengedit dan menerbitkannya. Sabrina yang sudah berkarya lewat dua novelnya, I Find in it your eye dan Silent Memory menceritakan proses kreatif penulisannya. Saat itu penulisan novelnya, ia sedang menempuh studi di benua kanguru, dan ia memiliki banyak waktu luang. Dan menulis novel adalah kegiatan yang dilakukannya untuk mengisi waktu luang di tengah-tengah studinya. Menurut Sabrina, ia membuat outline terlebih dahulu dan penulisan cerita mengalir begitu saja. Selanjutnya ia sendiri yang melakukan proses pengeditan lalu diterbitkan.

Dari hasil pertemuan kemarin saya juga baru tahu bahwa Maryana beberapa kali telah ikut sayembara, dan ia sudah memiliki naskah buku, tapi masih perlu mengumpulkan keberanian menyerahkan naskah untuk dicetak. Selain itu, Maryana juga berbagi pengalaman bagaimana penyelenggaraan blog tour oleh penerbit.

Aul menceritakan bahwa ia sudah kenalan dengan haniva dan tirta sejak SMP jauh sebelum masuk BBI, karena mereka sama-sama ngefans pada sesuatu, ketika kami mendesak ngefans sama siapa, Aul menolak menjelaskannya, hahaha…Selain itu Aul menceritakan bahwa ia membaca koleksi ebooknya lewat tablet yang ditunjukkannya pada kami. Saya yang gagap teknologi akhirnya mengetahui bagaimana perbedaan membaca file ebook dengan type epub maupun pdf. Ia juga menyarankan nama software baca yaitu Moon Reader di playstore google.

Dengan Anastasia, saya baru pertama kali ketemu, ia mahasiswi semester 7 jurusan desain komunikasi visual. Dari diskusi saya juga baru tahu kalau perancangan logo dalam periklanan merupakan salah satu pelajaran mereka, dan katanya penilaian oleh dosen sangat subyektif. Bagus atau jelek. Namun dalam dunia periklanan, pekerjaan kreatif seperti itu dibayar mahal meski harus sampai pulang nggak pulang ke rumah.

Sekitar pukul 19.30, Anastasia dan Aul undur diri karena akan pulang ke ujung dunia, hahaha…saya, sabrina dan maryana masih melanjutkan obrolan sampai The Kiosk bener-bener tutup sekitar pukul 21.30.

Saya pulang dengan mendapat dua buku Coelho hasil lelang BBI dari Sabrina, disamping itu bertambah pengetahuan dan pengalaman. Semoga lain kali bisa bertemu sahabat-sahabat lain

The Alchemsit dan Eleven Minutes

The Alchemist dan Eleven Minutes

Dari depan:  kiri-kanan: maryana-sabrina belakang: kiri kanan: anastasia-aulia-saya

Dari depan:
kiri-kanan: maryana-sabrina
belakang:
kiri kanan: anastasia-aulia-saya

Demikian Laporan pandangan Mata dari saya yang dikerjakan secara singkat dan cepat, 🙂
Maryana | http://ryanarien.blogspot.com/
Sabrina | sabrinazheng.blogspot.com
Anastasia | janebookienary.wordpress.com/
Aulia | http://hitamdidalambuku.tumblr.com/
Helvry | http://blogbukuhelvry.blogspot.com

bandung, 30 Juli 2015

Pertemuan dengan konser musik klasik di Bandung

Saya merasa kehilangan informasi tentang pertunjukan seni di Bandung sejak kantor saya memutuskan menghentikan langganan koran Pikiran Rakyat dengan alasan efisiensi. Selama ini saya memang mengandalkan informasi yang terdapat di rubrik khazanah setiap Hari Senin dan Rabu untuk mengetahui pertunjukan menarik yang dikunjungi di Bandung. Dan itu sangat luar biasa, saya banyak mengenal tempat-tempat baru di Bandung.

Senin pagi ketika saya berkunjung ke meja kerja salah seorang rekan saya, dan menemukan koran pikiran rakyat ada di mejanya, langsung saya buka rubrik khazanah dan menemukan informasi bahwa konser musik klasik malamnya di GKI Anugerah, Jalan Sudirman.

Informasi ini saya sampaikan ke Reita, seorang teman editor di Bandung yang juga menggemari pertunjukan-pertunjukan seperti ini. Awalnya ia akan datang, berhubung ada urusan dengan putrinya, ia membatalkan datang. Saya mempelajari denah lewat google map, saya mendatangi lokasinya.

Saya tiba di lokasi tepat waktu meski sempat kesasar. Kesan pertama saya dengan tempat ini adalah: luar biasa. Saya tidak pernah menemukan model bangunan gereja seperti GKI Anugerah. Tidak ada papan penunjuk. Masuk ke dalamnya ternyata bangunannya 4 lantai.

Harga tiket masuknya 50.000. Saya masuk dan mengambil posisi yang cukup strategis menonton. Hal pertama yang saya amati tentu interiornya. Luar biasa. Sepertinya gereja ini cukup sering mengadakan konser musik kamar. Pencahayaannya bagus dan saya perhatikan ada mikropon terpasang di sisi-sisi pemain musiknya.

Selanjutnya mengikuti konser musik kamar ini. Saya sebenarnya tidak begitu hafal dengan karya-karyanya. Saya mengikuti saja sajian musik ini. Saya sedikit banyak mengerti musik klasik setelah sering diberitahu Bang Ronald, bahwa dalam musik klasik sering berganti pemegang melodinya. Hal tersebut saya rasakan juga, dan memang terdengar indah saling mengisi.


Saya amati, Trio Cascade ini sangat terampil memainkan karya-karya klasik. Terdengar sangat sempurna. Wajar, setelah saya melihat profilnya, mereka semua berkecimpung di dunia musik. Sebagai pengajar di Universitas Duta Wacana dan Institut Seni Indonesia serta di GKI Anugerah sendiri.

Saya cukup puas menontonnya. Sempat kepikiran ngupload tiket konsernya di Path sebagai bentuk antimainstream bagi orang-orang yg suka upload tiket bioskop, tapi kelupaan, sudahlah..dan tadi pagi saya membaca ulasannya di pikiran rakyat. Setidaknya saya makin mengerti setelah menonton dan membaca ulasannya.khazanah-PR16-4-2015-cascadae trio

Dengan begini saya jadi rajin mengecek terus khazanah pikiran rakyat, semoga ketemu lagi pertunjukan seni lainnya dan tempat-tempat baru di Bandung.

proc·ess

Percaya tidak percaya, kadang kala kehadiran gadget membuat saya menjadi tumpul dalam berkreasi. Sebenarnya bukan masalah gadgetnya, Tetapi aplikasi-aplikasi yang ada di dalamnya. Maraknya media sosial, ternyata membuat kita tidak bersosial lebih baik. Hanya tampak mapan di media sosial, tidak tau seperti apa di dalamnya.

Suatu kali saya membaca di Majalah Tempo sebuah ulasan tentang buku kuasa Jepang di Jawa pada masa pendudukan mereka di Indonesia. Buku itu ditulis oleh orang Jepang sendiri. Dalam artikel itu diceritakan bahwa penulisnya mendapat tekanan dari negerinya dan dituduh sebagai ekstrim kiri. Namun, buku yang merupakan disertasinya itu tetap eksis keluar sebagai sebuah karya. Ia mewawancarai ratusan orang, membaca ratusan (barangkali ribuan) referensi. Dan ketekunan serta kerja keras yang konsisten menghasilkan sebuah karya yang dapat bermanfaat bagi banyak orang.

Disitu saya merenungkan, bahwa seringkali kita tidak patuh dan konsisten pada proses. Kita termanjakan dengan bacaan-bacaan dangkal di media online, cuitan, quote-quote yang dipublikasikan dalam bentuk teks atau image, tanpa menggali kedalaman pengetahuan dan makna. Saya sendiri pernah memerhatikan orang di sebelah saya saat di angkutan umum, yang membuka layar hpnya lalu membuka-buka foto profil teman-temannya. Meski tidak mewakili secara keseluruhan, namun gejala bahwa kita “terbiasa” dengan sesuatu yang baru dan segera berlalu, itu sudah terjadi. Seberapa banyak buku yang kita baca untuk menunjang cara berpikir dan wawasan yang lebih luas?

 

first posting

Halo blog.

Lama tak mengisinya. Inilah postingan pertama di tahun 2015. Melihat 2014 yang lalu, saya hanya memposting 3 tulisan.

Hasil pertemuan saya denganteman teman blogger, saya melihat ada antusiasme yang luar biasa dalam menulis. Berangkat dari keinginan berbagi, kegiatan menulis merupakan media yang efektif menjangkau banyak orang. Namun seringkali yang ditakutkan para pemula adalah bahwa tulisan mereka rada personal, curhat dan sebagainya sehingga mereka sungkan untuk mempublikasikannya di khalayak.

Saya melihat lagi kegiatan menulis saya. Terjadi penurunan sangat signifikan. Padahal, saat ini sudah didukung dengan perangkat mobile yang canggih, yaang dapat terhubung ke internet kapan dan dimana saja. Saya sadari juga kalau saya menemukan hal hal baru, saya “malas” menuliskannya karena saya anggap kadang merepotkan mengetik di touchscreen.

Ternyata saya keliru. Pembacaan saya pada Novel Malaikat Lereng Tidar karangan Remy Sylado, saya menyimpulkan bahwa untuk menghasilkan tulisan yang berbobot, diperlukan jam latih yang disiplin. Selain itu saat dimana hati memimpin mengungguli akal, ada di saat saat permenungan. Dan hasil permenungan dapat tertuang dalam kalimat kalimat penguatan atau bait bait puisi. Terlebih, seharusnya saya menyadari bahwa dalam tulisan, kita sedang membuka diri untuk diisi sepenuh penuhnya.

Kini, saya tidak mau terjebak menulis karena tugas dan rutinitas. Tetapi karena saya ingin berbagi pemikiran dan pengalaman, terutama menjadi warisan saya bagi anak cucu saya kelak.

Dari sudut sebuah kelas diklat

JCC: untold story

Inilah hidup.

Saya berada (kembali) di JCC. JCC bukan lagi menjadi tempat yang asing bagi saya. Di sekitar pertengahan tahun 2001, saya sudah mengenal tempat ini. Saat itu suatu keberuntungan bagi saya sebagai salah satu mahasiswa baru yang terpilih menjadi anggota paduan suara wisuda di salah satu kampus plat merah di kawasan Bintaro (alih-alih tidak mau dibilang daerah banten). Dari kepanitiaan itulah saya mengenal bahwa JCC terutama di plenary hall sebagai tempat wisuda. Baru setelahnya saya mengetahui bahwa tempat ini sebagai tempat konser dan sebagainya. Ternyata saya berjodoh untuk terus menjadi anggota paduan suara wisuda untuk tahun berikutnya. Tahun 2002 dan 2003. Bahkan di tahun 2003, saya menjadi ketua paduan suaranya.

Jadi, dengan berbekal sebagai panitia/anggota paduan suara, hampir tiap tahun saya masuk ke JCC. Mulai dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2003. Tugasnya yaitu sebagai pengiring lagu-lagu wisuda. Lewat pengalaman itu dan pengalaman selanjutnya, saya masuk ke JCC (Plenary hallnya) adalah dalam rangka wisuda. Jika 2001 s.d. 2003 sebagai anggota paduan suara wisuda, tahun-tahun berikutnya saya sebagai peserta wisuda itu sendiri.

Hampir tiap saat memasuki ruang plenary hall sebagai peserta wisuda, rasa haru menyeruak dalam hati. Tahun 2004, ketika diwisuda sebagai Ajun Pajak (nama keren lainnya Ahli Madya), saya mengingat kembali masa-masa PKL, pembuatan laporan, serta sidang. Demikian juga pada tahun 2006, ketika saya diwisuda menjadi sarjana ekonomi. Saya mengingat masa-masa di tengah penugasan pun saya sempatkan mengerjakan skripsi serta membuat janji bimbingan dengan dosen yang juga merupakan Dekan, beliau sibuknya luar biasa. Dan terakhir (?), tahun 2013 yang lalu. ketika saya diwisuda program magister. Ini benar-benar momen yang paling saya ingat. Saya menyelesaikan tesis dengan agak tersendat. Di tengah berbagai keputusan yang mengubah jalan hidup, saya berjibaku mengerjakan tesis, menghadapi sidang, serta melakukan revisi. Saya hanya beruntung, dikelilingi orang-orang yang baik hati, mendukung dan memberi semangat. Hampir di tiap wisuda itu hadir orang-orang dekat saya: Bang Ronald, Ezron, dan Bapak saya. Sungguh itu merupakan bagian hidup saya yang tak akan saya lupakan.

Sebuah pertanyaan kecil dari teman saya lewat chat: “Bang, sudah lulus kan?, kok nggak ada berita-beritanya?” Jawaban saya kepada teman saya, ” kadang kala wisuda di JCC membuat saya sedih” “Kenapa sedih?” tanyanya kembali.

Sesungguhnya bukanlah sedih. Tetapi saya mengingat kembali seraya sedih. Sebab saya tahu bahwa semua proses pencapaian-pencapaian di atas bukanlah karena saya pintar atau jenius. Hal itu terbukti dari nilai-nilai saya yang tidak bagus-bagus amat. Dalam benak saya hanyalah harus selesai! dan sepertinya menuju ke proses pembuatan laporan, skripsi, maupun tesis, tidak pernah mulus. Selalu saja ada hambatan dan semangat yang kadangkala jatuh.

Namun, sesungguhnya untuk apa saya bersusah-susah melakukan itu semua? untuk diakui? untuk aktualisasi diri? atau untuk apa? saya sendiri bingung menjawabnya. Dalam prosesnya, saya menyenangi apapun namanya belajar. Ketika memandang toga, saya teringat kepada orang yang berjuang agar saya bisa bersekolah tinggi. Muncul pertanyaan di benak saya, apakah memang benar ada Hukum tabur-tuai? apakah orang yang menabur selalu menuai? atau ada yang menabur, ada yang menuai?

Tatkala saya teringat apa yang dikatakan bapak saya:

“Mama dulu cerita sama bapak. Udah kuantarkan abang kuliah. Tapi tidak akan kulihat dia wisuda.”

IMG_20131117_132622

Dan bulir air terjun bebas.

 

Helvry

draft tulisan 17.11.2013, finishing 15.08.2014

Belajar

Apa sih artinya belajar? saya mencoba menerjemahkannya dengan mencari sesuatu di luar profesi atau bidang yang saya tekuni/geluti. Dimana sesuatu hal baru tersedia lebih banyak di luar yang kita hadapi di kehidupan sehari-hari.

Minggu kemarin, dalam sebuah kelas di Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, saya berkenalan dengan seorang Bapak. Mengapa saya bisa sampai ke sana? ceritanya begini. Saya membaca sebuah foto banner di facebook yang beracara tentang filsafat seni. Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Unpar. Sejujurnya kedatangan saya hanyalah mencoba seperti apa sih suasana kelas di sebuah universitas di Bandung? Kebetulan pengisi kelas saat itu adalah Garin Nugroho, seorang sutradara terkenal di Indonesia. Jadilah saya datang ke sana setelah kesasar kesana kemari dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp50.000.

Sebelum Garin datang-terkena macet dahsyat- saya berbincang dengan bapak disebelah saya. Setelah obrol kesana kemari, akhirnya saya mengetahui bahwa ia adalah seorang kandidar Doktor di bidang Hukum Lingkungan. Menarik berdiskusi dengan beliau, apalagi seklias membahas bagaimana sebuah undang-undang dapat terbit di DPR, namun anggota DPR nya sendiri tidak mempunyai pendidikan hukum yang memadai. Jangankan pendidikan hukum, berpikir logis dan kritis aja tidak. Jadi tidak heran, banyaknya undang-undang yang diajukan uji materi di Mahkamah Konstitusi, salah satu penyebabnya adalah ketidakmemadaian kapabilitas anggota DPR mengupas rancangan undang-undang serta korelasinya dengan undang-undang dasar maupun undang-undang lain.

Pembicaraan berlanjut ke sistem pendidikan kita yang menekankan pada banyaknya hafalan dan mata pelajaran serta tidak dirancangnya pelajar Indonesia ke arah mendalami suatu bidang yang spesifik. Saya sendiri kagum mendengarkan analisis beliau. Ya tentu saja, kandidat doktor! 🙂 Pada akhir pertemuan, kami bertukaran nomor HP dan ia mengundang saya ke rumahnya, dan akhirnya saya mengetahui profesinya adalah seorang Peneliti, ckckck…dan ia berjanji akan mengundang saya untuk datang pada sidang terbuka disertasinya pada bulan Mei mendatang. Sungguh surprise tak terduga 🙂

Pada hari minggunya, ketika di gereja, saya bertemu dengan kakak kelas (senior) yang ternyata sedang belajar doktoral di Perth. Ah saya merasa sangat kecil diantara mereka yang saya temui minggu kemarin. Mereka dengan rendah hati dan tetap semangat untuk meneruskan pendidikan. Saya sendiri bila ditanya, mau nggak kuliah sampai S3? saya jawab tidak. Kenapa? karena saya tidak butuh. Entahlah suatu saat keputusan saya berubah, tetapi bila melihat situasi pendidikan tinggi Indonesia sekarang, saya khawatir saya akan terjebak pada “menyelesaikan tugas akhir” tanpa menikmati proses belajar itu sendiri. Selain itu, pertanyaan selanjutnya, saya mau jadi apa? saya pikir kedua orang yang saya temui punya alasan kuat untuk sampai ke jenjang pendidikan sana serta punya rencana besar akan keilmuan mereka. Sementara saya sendiri, saya merasa sepertinya sudah melenceng dari latar belakang pendidikan serta peminatan yang berbeda dengan profesi yang saya geluti sekarang.

Mungkin yang menarik bagi saya saat ini adalah berdiskusi di kelas, atau berbincang dengan orang-orang yang punya ilmu tertentu atau profesi lain, tanpa harus terjebak pada tugas-tugas atau pencapaian nilai-nilai numerik. Bagi saya itulah belajar.

berbahasa menulis

Sudah lama tidak melongok blog saya ini. Saya merasa kehilangan jam-jam sunyi untuk menulis. Pergi pulang pagi. Terdengar berlebihan memang, namun beberapa kali situasi itu terjadi. Tanpa harus menunggu jam-jam tersebut seharusnya tidak perlu ada alasan untuk berhenti menulis. Buktinya, “produksi” foto saya di instagram masih lebih baik dibanding di blog ini.

“Blog buku bagaimana?” mirip tapi tidak sesepi ini. Masih ada program yang “memaksa” saya harus mengupdate blog. Jika tidak, maka akan semakin penuhlah blog buku itu dengan “sarang laba-laba.” Disadari atau tidak, kehadiran banyaknya aplikasi chat, membuat mood menulis menjadi turun. Seringkali saya menanyakan sesuatu hal kepada teman-teman lebih suka menggunakan aplikasi chat daripada menggunakan email. Apakah hal itu sudah menjadi trend baru? saya kurang paham juga, namun saya menyadari perbedaan menulis pesan di chat daripada menulis pesan pada email. Perbedaan mendasarnya adalah pada email saya berusaha disiplin pada adanya pembuka, isi, dan salam penutup. Sementara pada chat, boro-boro mau ada pembuka, kalimat sapaan aja kadang kala main terabas aja. Sepertinya simpel, namun apa sih filosofinya?

Bagi saya barangkali sederhana. Intinya kita ingin agar pesan kita diperhatikan oleh lawan bicara kita. Bagaimana caranya agar diperhatikan? berlaku prinsip bila kau ingin dihargai orang lain, maka hargailah orang lain terlebih dahulu. Hal serupa terjadi dalam ragam tulisan. Salam pembuka lebih kepada bentuk menghargai pembaca terlebih dahulu agar ia memperhatikan pada inti pesan kita. Setelah itu ditutup dengan ucapan terima kasih atas perhatian pembaca pesan kita. Sepertinya repot ya? ya memang repot. Itulah risiko bersosial. Saya sendiri pernah diemail oleh atasan saya “bisa ke ruangan saya sebentar?” apakah itu ranahnya email atau chat? saya membayangkan kalau saya terlambat membacanya, maka akan lain ceritanya…tapi dari situ saya berkesimpulan, bahwa bagaimana orang memanusiakan manusia, adalah bagaimana ia berbahasa pada sesamanya.

Ah sudahlah..saya sendiri bingung…lebih baik saya akhiri tulisan saya ini…

terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini.

helvry