Bila seorang penulis atau pelukis hebat mengasingkan dirinya untuk menghasilkan karya luar biasa, saya merasa bahwa saya juga butuh ruang-ruang untuk terpisah sejenak dengan hiruk pikuk dunia luar untuk membuat saya tetap waras. Keberadaan sosial media bukannya menolong malah saya benar-benar menyingkir.

Bila Sapardi menjadikan puisi sebagai media “berkhotbah” maka saya (belajar) menggunakan foto sebagai pendekatan terhadap “bayang-bayang” atau imajinasi saya. Salah satunya sepeti foto dibawah. Tercipta keadaan paradoks. Disatu sisi, bagaimana menerjemahkan hiding place pada perahu yang tidak tertutup, sementara bagaimana memandang hiding place sebagai tempat menjauhkan diri dari serangan maupun gangguan musuh?

Yah..kadang saya malah menikmati tidur saya padahal di dekat telinga saya berbunyi musik rock. Saya menyadari bahwa dibalik kebisingan musik metal/rock, paling tidak ia memiliki ketukan yang teratur. Disitu saya menangkap ditengah kebisingan dan hentakan, ada keteraturan yang bisa berpotensi meninabobokan.

Yah..saya membayangkan perahu ini adalah perahu kedamaian…perahu memandang cinta kasihnya Tuhan, meski nanti perahu tersebut akan menjadi rusak tidak terpakai lagi, Paling tidak, ketika masih ada usia dikandung badan, sempat menikmatinya. Perkara nanti..ya nanti. Lebih baik nikmati. Sekarang!

In the hiding place