Tags

, , ,

Akhirnya menjejakkan kaki lagi di Gedung Kesenian Jakarta Selasa, 4 September 2012 lalu. Baru kali ini saya pernah menonton teater yang diangkat dari sebuah novel. Biasanya adaptasi dari novel dikemas dalam bentuk film. Pementasan tersebut diambil dari novel karangan Putu Fajar Arcana yang sehari-harinya berprofesi sebagai wartawan yang khusus menangani rubrik seni dan budaya di Kompas Minggu. Novel tersebut berjudul Gandamayu. Bagi yangsudah familiar dengan kisah wayang tentu paham dengan kisah ini. Potongan kecil kisah Mahabharata dijadikan sebuah karya seni peran yang menawan.

Gandamayu (lengkapnya setra gandamayu) adalah sebuah tempat dimana orangorang terhukum atau dikutuk/ditempatkan. Adalah Dewi Uma yang dihukum oleh Siwa ke Setra Gandamayu. Setelah 12 tahun, Dewi Uma (yang berubah menjadi raksasa dan bernama Dewi Durga) merencanakan kembali ke khayangan. Namun ia membutuhkan tumbal untuk dapat memulihkan hukumannya. Inilah inti cerita yang ingin disajikan, bahwa pada hakikatnya manusia tanpa melihat apa agama dan kepercayaannya, membutuhkan pemurnian agar kembali ke jati dirinya yang siap untuk berkreasi kembali, berkarya kembali, dan berjuang kembali. Ada banyak hal yang menghimpit hidup, segenap konsekwensi hidup yang berat pun dijalani. Hal tersebut yang ditempuh Dewi Durga dengan meminta kepada Kunti agar Sahadewa dikirimkan ke Gandamayu untuk meruwat Dewi Durga.

Durga (Ine Febriyanti)

Menurut sinopsis pada buku acara, proses kreatif penulisan novel ini didahului akan kenangan masa kecil Fajar Arcana bersama Bapaknya. Bapaknya adalah seorang penembang yang hebat. Bersama Bapaknya ia dibonceng bersepeda. Kenangan akan masa kecil itulah yang mengantarkannya pada cerita Sudamala yang akhirnya dituliskan dalam bentuk novel. Dan sekelumit cerita di setra Gandamayu ini, diangkat oleh teater Garasi menjadi pertunjukan apik.

Ki-Ka: Ayah-Anak

Pertunjukan teater itu sendiri ditampilkan dengan konteks sehari-hari. Dewa Siwa diperlihatkan pada awalnya adalah seperti orang terbaring sakit (lihat tempat tidur yang ada infusnya). Ia meminta kepada Uma agar turun ke bumi untuk mengambil susu dari sapi putih yang dimiliki oleh seorang gembala. Sebagai istri yang patuh pada suaminya, Dewi Uma menuruti permintaan suaminya. Namun perjalanan mencari susu dari sapi putih itu tidaklah mudah. Sampai ketika ia bertemu gembala itu dan meminta susunya. Namun susu itu ternyata tidak murah, Dewi Uma harus meraihnya dengan mengganti dengan tidur bersama gembala. Ternyata gembala itu adalah Siwa yang menyamar. Siwa marah. Ia menghukum istrinya ke Gandamayu karena berlaku tidak setia.

Meski saya belum membaca seluruh cerita dalam novel Gandamayu ini, memang saya tertarik dengan konflik-konflik yang dimunculkan oleh tokoh-tokoh ini. Bagaimana akhirnya Durga memerintahkan Kalika agar merasuki Kunti untuk memerintahkan Sahadewa datang ke Gandamayu untuk meruwatnya. Di sini terlihat sosok perempuan yang setia sekaligus cerdik. Ia memiliki cara-cara yang mungkin bagi penonton seperti kurang etis, namun dari sisi logis hal itu cukup cerdas. Tentang bagaimana Kalika yang dihukum karena meracuni 35 laki-laki, namun Kalika membela diri bahwa yang ingin ia racun itu suaminya sendiri yang berlaku tidak pantas di depannya, sementara 34 laki-laki lainnya adalah teman suaminya. Tentang bagaimana Semar yang digambarkan sebagai tokoh yang bijaksana memberi nasihat-nasihat jitu.

Ki-Ka: Sahadewa-Semar-Kalanjana-Durga

Mengangkat sastra lisan menjadi seni peran adalah upaya untuk merekontekstualisasikan kembali cerita luhur. Ada nilai-nilai yang perlu kita maknai kembali apakah nilai tersebut telah bertransformasi di pandangan masyarakat dari zaman ke zaman. Kembali ke topik tadi, bahwa perlu meruwat kembali hidup yang ruwet ini, dan mungkin bagi saya agak sedikit melancarkan keruwetan tadi dengan menulis liputan ini.

Helvry