Tags

Menutup hari ini, saya ingin menulis tentang apa yang saya alami hari ini, terutama pembicaraan menarik dengan dua orang yang cukup menginspirasi. 

Pertama, dengan seorang muda, berusia masih di bawah empat puluhan, ayah dari dua orang putra. Ia mengatakan bahwa ia ingin menjadi pengajar (baca: dosen) alih-alih pekerjaannya saat ini yaitu bergelut di bidang pengadaan barang. Di samping itu, ia sedang mengerjakan disertasi doktoralnya. Yang bikin saya takjub adalah: Ia mengambil dua disertasi. Satu bidang manajemen strategis, satu lagi bidang manajemen strategis. Saya tidak habis pikir bagaimana ia dapat membagi waktunya yang begitu sempit. Ia hanya berkomentar bahwa karena mumpung masih muda dan anaknya masih kecil-kecil, ia bisa melakukannya. Ia menambahkan bahwa mengajar adalah passionnya dimana ia bisa membagi ilmu. Luar biasa.
Kedua, dengan seorang bapak, yang belum sempat saya tanyakan namanya. Berdiskusi tentang acara-acara di televisi yang semata mengejar rating dan tidak edukatif? ketidakjujuran data kemiskinan, kebijakan pemerintah yang tidak berpihak rakyat kecil, dan pemahaman akan keunikan masyarakat Indonesia. Ia juga menambahkan bahwa pengalamannya di sebuah desa kategori IDT, pembangunan jalan di tempat itu dalam kurun waktu 15 tahun hampir tidak ada perubahan signifikan. Saya menanyakan hal itu menunjukkan fenomena apa? ia menerangkan bahwa perencanaan tidak dilakukan secara matang, dan tidak menjawab apa yang menjadi kebutuhan mendasar masyarakat. Seringkali kebijakan pusat tidak berhasil dikarenakan tidak memahami apa kondisi di daerah, dan hal itu berakibat ketidakefektifan program.
Dari kedua kejadian di atas saya berpikir bahwa banyak orang-orang kita yang masih peduli dengan bangsa ini. Dan seyogyanya kita juga mengemban tanggung jawab itu, kenapa? mumpung hayat masih di raga. Lakukan perubahan dengan cara dan profesi masing-masing, masalah apakah kita akan sempat menyaksikan perubahan itu di sisa hidup kita, itu mungkin bukan urusan kita.
Dari atas meja bundar kecil, 12 Maret 2012