Tags

,

Mungkin saya sependapat dengan apa yang dikatakan oleh clara ng, bahwa salah satu cara agar menjaga kewarasan adalah dengan menulis. Namun bagi saya, menulis pun bukanlah sesuatu yang dapat membuat energi berlebih tersalur tetapi suatu beban tersendiri karena sebuah keharusan.

Menjelang akhir tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, maka penuhlah bulan Desember dengan penugasan. Untuk itu tidak berlebihan saya harus iri dengan status twitter yang mengatakan:
“backup kerjaan OK, surat cuti OK, liburan….”
Tahun ini mungkin berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana ada  keterlibatan saya dengan sebuah komunitas paduan suara. Dan sekarang seolah kerinduan bernyanyi kembali terjawab namun dengan konsekwensi yang berat juga. Jam latihan terasa tidak seperti mahasiswa dulu, partner suara dalam paduan suara bukan seumuran alias bapak-bapak/ibu-ibu, komitmen latihan? jangan tanya..karena sangat biasa tidak dituntut untuk harus datang dengan berbagai permakluman.
Demikian juga dengan tim baru saya, personil yang hanya kenal sebulan diharuskan bekerjasama dengan baik. Bagi saya, hal ini bukan perkara mudah, karena saya termasuk orang yang nyaman bekerja sendiri. Belum lagi permasalahan-permasalahan nonteknis yang kadang kala membuat makan tak lahap, tidur tak lena <<–lebay
Namun adakalanya harus dihadapkan dengan situasi tidak menyenangkan seperti itu. Supaya apa? supaya selalu siap dengan segala perubahan. Perubahan punya dampak yaitu ketidaknyamanan. Kadang kita perlu  menikmati sesuatu dengan cara-cara tersendiri. Kalau dipikir-pikir, masalah hidup nggak habis-habis, kecuali kita juga habis di dunia ini. 
Andar Ismail mengatakan bahwa rumah bukanlah semata-mata tempat berteduh, namun juga perlambang penerimaan. Orang merindukan pulang karena butuh penerimaan. Dan saya merasa diterima ketika pulang. Itu saja. Itu cukup