Tags


Dalam sebuah diskusi sabtu lalu di Plaza Indonesia, kita mendiskusikan sebuah buku tentang seorang sejarawan Indonesia yang mungkin namanya jarang didengar oleh orang, yaitu Onghokkam.

Buku yang kita diskusikan adalah hasil tulisan Andi Achdian, mantan mahasiswa Ong, yang mengamati dari dekat pemikiran-pemikiran Ong lewat diskusi dan acara minum kopi di rumah Ong. Mungkin semirip dengan buku Tuesday with Morrie-nya Mitch Albom.

Point yang menarik dalam diskusi itu ialah pertama, Ong mengajak Andi untuk berpikir logis, memandang suatu peristiwa digali dari berbagai sudut. Kedua, Ong sangat menyukai kebudayaan Jawa. Ong mengisahkan bahwa dari zaman Raja-raja Jawa dahalu, sejarah kebesaran dan kehancurannya mengalami kisah yang agak serupa. Intinya kehancuran kerajaan Jawa justru dari dalam kerajaan sendiri. Hal itu hampir sama dengan keadaan negeri ini. Sukarno, si pemimpin besar revolusi jatuh karena orang dekatnya (baca: PKI), soeharto karena kroni dan para pejabatnya. SBY sekarang karena ulah politisi dan partainya.

Sepulang dari diskusi itu, saya jadi bertanya-tanya bagaimana ungkapan When has history repeated itself
seolah-olah setiap peristiwa adalah sebuah ulangan peristiwa masa lalu sebelumnya. Kapan belajarnya? kapan ada perubahan? saya sadari saya sendiri kadang enggan untuk berubah.
kembali lagi pada sebuah ungkapan:

yang fana adalah orang yang berubah, yang kekal adalah perubahan itu sendiri