Tags

,


Suatu pagi sebuah mangkok berisi 3 buah tempe mendarat di meja saya di kantor.

“Makan dek.” kata rekan saya.
“Waduh mbak, lagi nggak suka gorengan nih, sedang batuk.” Jawab saya.
“Aku sebenarnya karena kasihan, makanya aku beli.”
“Ya, tahu mbak, cuma kadang kita nggak tahu ini minyak goreng keberapa kali”
“Iya sih.”

Setiap pagi di kantor saya, ada bapak-bapak yang berjualan sarapan. Ia dengan bersemangat membawa peti plastiknya yang berisi bihun, bakwan, tempe, nasi goreng, nasi kuning. Saya pernah menanyakan berapa usianya, dan ia menjawab 40 tahun. Semua jenis sarapan tadi bukan dia yang membuat, bapak tersebut hanya menjualkan kembali. Saya sendiri belum pernah mengira-ngira berapa omsetnya sehari. Perkiraan saya, tidak akan melebihi omset sebuah warung padang.

Suatu kali ia pernah datang ke ruangan kami dan menceritakan bahwa ibunya sakit. Dan ia butuh uang untuk biaya perobatan ibunya. Seorang teman berinisiatif mengedarkan amplop ke seluruh orang yang ada di ruangan. Selogisnya, untuk teman yang punya pesta pernikahan, kita selalu saweran, kenapa tidak untuk bapak ini.

Akhirnya saya seperti berpikir ulang. Pada dasarnya saya bersyukur saya dipelihara lewat pekerjaan. Paling tidak cukuplah. Cuma saya berpikir ulang. Bukankah senang dan susah datangnya selalu saling melengkapi? dan bukankah sebenarnya si Bapak itu seperti sedang ‘mengedarkan’ pemberitahuan seperti undangan pernikahan perihal ibunya yang sakit? Ah saya tertegur, saya hanya (cuma) membeli dagangannya dan saya makan, sementara jumlah yang jauh lebih besar saya berikan untuk sebuah suvenir yang tidak dapat saya maknai.
*usap muka*