Tags

,


Ketika saya sedang asyik bekerja *gaya, teman saya bertanya pada saya. Pertanyaannya seperti ini: 


Kenapa laki-laki (yang sudah menikah) tidak begitu suka mengenakan cincin pernikahannya?
Wah..saya kaget mendengarnya.
 
Mbak, nanya aku atau mau ngasih tau kenapa?
#efek kaget

Nanya!
#memastikan bahwa saya yang ditanya
Hadeeh…mana saya tahu mbak, orang saya sendiri belum menikah. Jadi belum sebagai pelaku dooong.

Pembicaraan lebih lanjut menunjukkan bahwa banyak kasus dimana laki-laki yang sudah menikah, enggan mengenakan cincin nikahnya. Sekilas saya memindai para bapak-bapak di ruangan saya, ternyata pengamatan saya mendukung hipotesa di atas.
Dari sebuah artikel ini dan ini diperoleh semacam suatu penyebab hal tersebut. Menarik untuk diketahui, penyebab pria yang sudah menikah tidak mengenakan cincin antara lain adalah:
1. Sehubungan dengan pekerjaan. Pekerjaan seperti konstruksi bangunan dan peralatan listrik tidak nyaman jika ada cincin di jari, sebab sehari-hari mereka menggunakan sarung tangan untuk pekerjaan mereka.
2. Para pria bukan penggemar perhiasan. Karena itu tidak merupakan suatu keanehan bila pria tidak suka mengenakan perhiasan jari/tangan.
3. Ketidakmauan para pria dinilai status perkawinan mereka oleh publik.
 
Terlepas dari alasan di atas, saya menyaksikan orangtua saya juga (sepertinya) tidak mengenakan cincin kawin tersebut. Dan sekarang, yang menjadi pertanyaan mendasar ialah:
Apakah esensinya cincin tersebut?

Dari komentar yang saya baca pada artikel di atas, salah seorang pengunjung memberi pendapat bahwa pada dasarnya, cincin tersebut merupakan simbol. Simbol dimana trend sosial masyarakat ya seperti begitu. Saya kutip kalimatnya begini:

I love and trust my husband, but not because he wears a ring.

Bahkan ada seorang pengunjung yang komentarnya terkesan ‘menyerang’

Neither one of us wears a ring and we have been together over 10 years. If the only thing telling you he loves you is him wearing a ring you have serious issue

Dari dua komentar di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sesuatu yang sifatnya simbolis, belum tentu menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Tidak ada jaminan juga siapa yang mengenakan cincin akan senantiasa setia. Toh itu hanya yang tampak saja. Saya baca pada suatu artikel di sebuah blog yang mengatakan bahwa

Ya, selama bukan kawin paksa ala Siti Nurbaya, rasanya kebanyakan pasangan menikah dengan keadaan bahagia di hari pernikahannya (wedding). Bahagiakah pernikahannya (marriage)? Belum tentu.

Wah..saya jadi malah melebar kemana-mana. Ntar kalau saya ditanyain sekali lagi seperti di atas, mungkin akan saya jawab:

Mungkin sedang disimpan karena jarinya kegendutan…kabuuuur