Tags

,


saya melihat seolah-olah yang menjadi biang “kerusuhan” di jalan raya adalah sepeda motor. Walau saya tak memungkiri, karena pernah juga saya berlaku demikian.

Kejadian baru baru ini persis di depan saya. Dimana tabrakan antara sepeda motor cuma berjarak 1 meter di depan saya. Kasihan sekali yang ditabrak, serorang perempuan muda yang dibonceng. Ia meringis kesakitan. Namun yang memboncengnya salah besar. Menerobos lampu yang sudah menyala merah, dan karena ada mobil di depan kami, tidak bisa melihat dari arah kiri. Jadilah tabrakan itu.

Cuma ini sedikit uneg-uneg juga. Kadang merasa gimana gitu kalau saya berhenti di perempatan sedang menunggu giliran lampu hijau. Saya melihat mobil-mobil yang ikutan berhenti, isinya cuma satu orang atau dua orang. Tapi kebanyakan satu orang. Yaah..dalam hati mencibir juga…kenapa sih nggak dimaksimalkan mobilnya. Kalau mobil yang bisa muat maksimal 5, isi dong 5 orang. yang bisa muat 7 orang, maksimalkan juga dong, minimalnya setengah aja pun. Sebab, justru pengendara seperti itu yang menyumbang banyak pada kemacetan. Bandingkan saja jika satu mobil toyota avanza (kecenderungan mobil kayak gini), bangku tengah dan bangku belakang kosong. Hitung berapa panjangnya dan lebarnya, dapat luasnya. Tinggal kalikan pada sejumlah mobil yang serupa perilakunya. Belum ada angka pasti, tapi kebayang aja, udah berapa meter persegi jalan yang terbuang percuma karena nggak maksimal dipakai.

Saya setuju jika perbaikan transportasi umum akan mendorong penguraian kemacetan, tapi mungkin lebih efektif juga jika pengendara mobil yang membiarkan bangku tengah dan belakangnya kosong menanggung dengan membayar sejumlah uang kepada kas daerah atau dengan kata lain, ia membayar sejumlah insentif atas dampak kemacetan yang ditimbulkannya. Boleh jadi ia akan mengubah perilaku dengan beralih ke bus umum atau mencari orang yang sejalan arah dengannya. Cobakan juga untuk motor, kalau motornya nggak bawa penumpang 2 orang, kena denda juga.

Yah pada dasarnya setiap perjalanan juga pingin safe, pingin selamat, pingin utuh pergi dan pulang. Karena itu ada penandatanganan pada spanduk oleh warga pada kampanye aman berkendara. Siapa juga yg mau pergi lengkap, pulang tinggal nama?.


*lagi mosting karena suntuk laporan direvisi terus*