Tags

, , ,

Baru sekalinya ikut ke kantornya media indonesia, november lalu. untuk mengikuti diskusi dengan teman-teman pembaca tentang buku “Cut Nyak Dien” yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu. Bagi saya ini pengalaman baru. Pertama kali ke Media Indonesia yang selama ini ngeliat kantornya dari tol kebon jeruk, trus melihat ‘isi’ kantor tersebut, ternyata ketemu sama penyiar yang selama ini sering keliatan di tivi, aslinya canti banget euy. Dapat kenalan baru dari teman-teman penerbit komunitas bambu, yang salah seorangnya adalah pemimpin redaksi yang ternyata ada koneksi dengan teman jurangmangu (halah). Saya dengan mbak evi berangkat berdua dengan sepeda motor, sementara kak mia dan mbak lita dijemput oleh pihak media indonesia. Bagaimana liputannya? simak di artikel berikut yang dicuplik dari sini 

yang tidak ada di foto: David Tobing dan Sica Harum (wartawan MI) dan fotografer tentu saja .

Review saya tentang buku ini dapat dilihat di sini


Cut Nyak Din: Sisi Manusiawi Seorang Pahlawan

by sica on December 8th, 2010

Biografi Cut Nyak Din ditulis apik dari kacamata seorang perempuan Belanda
yang pernah tinggal di Aceh.  Menyentuh sisi manusiawi seorang pahlawan
sekaligus menggambarkan antropologi Aceh di masa itu.

SOSOK perempuan dengan rambut kusut , dengan ekspresi yang menyiratkan
kemarahan dalam ketidakberdayaan, terpampang dalam sampul buku Cut Nyak Din: Kisah ratu perang Aceh karya M.H Szekely Lulofs . Perempuan itu memang Cut Nyak Din. Kejadian itu diabadikan saat penyerahan
diri kepada Belanda, diambil dari buku Perang Melawan Kolonial Belanda di
Aceh
.

Dari gambar itu, diskusi buku mengalir. Peserta Obrolan Pembaca
Media Indonesia(OPMI) bisa menangkap usaha keras Din melawan penjajah di tanah leluhurnya.
“Ya seperti ini lah aku kira Cut Nyak Din itu. Dia kan memang memimpin
sendiri perang gerilya sampai 6 tahun setelah suaminya, Teuku Umar,
meninggal. Bergerilya, makan seadanya, ya sampai sakit dan buta, tetap
enggak mau menyerah melawan Belanda,” kata Mia Fiona, moderator Komunitas Goodreads Indonesia, saat membahas buku di Kantor Media Indonesia, Minggu(28/11).
Mia menilai, buku yang habis dibaca dalam satu minggu itu kaya akan data.
Namun, penuturan Lulofs yang mengalir membuat buku ini nyaman
dibaca sampai tuntas.  “Dari awal sudah kepegang <i>grip<p>-nya, jadi
membacanya juga enak sampai ke bagian akhir,” lanjut Mia.

Apresiasi serupa dilontarkan peserta OPMI lainnya, yaitu Helvry Wilhem Sinaga dan Evi Yuniati. Helvry yang pernah tinggal di Aceh merasa menapaktilasi tempat-tempat masa kecilnya. Adapun
Evi, penggemar buku-buku perjalanan yang mengaku  jarang terpapar buku-buku sejarah itu merasa tak kesulitan mengikuti alur cerita. “Aku rasa buku ini sih bagus banget untuk belajar sejarah Indonesia. Tidak seperti buku sejarah yang umumya digunakan di sekolah, dengan tanggal-tanggal penting yang dijejalkan,” kata perempuan berambut panjang itu.

Karakter Aceh
Din, putri bangsawan bergelar Nanta Setia itu digambarkan Szekely berbeda
dengan perempuan kebanyakan di Aceh pada masanya. Din keras hati. Sedari
kecil, tak mau mudah kalah dengan saudara-saudara lelakinya.  “Aku menangkap kesan, Din punya semacam peran yang tidak mau tunduk dengan siapapun. Dia berani menentang, berani berlawanan dengan orang yang tidak setuju dengan dirinya,” kata Helvry.

Peran Din memang tidak tenggelam dalam pernikahan. Setelah menikah dengan Teuku Ibrahim, Din kerap dimintai pendapat oleh sang suami. Ketika suami kedua Din, Teuku Umar, tewas, Din juga angkat senjata dan mengomandoi para lelaki yang tergabung dalam pasukannya. Din memimpin perang gerilya 6 tahun, masuk keluar hutan sampai sakit dan buta.
Sampai di bagian ini, provokasi untuk mempertanyakan kembali label pejuang emansipasi yang tersemat pada Kartini rupanya cukup berhasil. Kartini yang memilih ‘curhat’  melalui surat dan diam ketika dimadu terasa kontras dengan pembawaan Din.  “Seumur Kartini, Din sudah menikah dua kali dan memimpinperang,” kata Mia seraya tertawa.

Lita Soerjadinata lantas menarik sosok Din ke masa kini. Dia menimpali, “Din
itu pakai celana panjang. Dia biasa bergaul dengan lelaki, memimpin perang
dan mengomandani lelaki. Beda sekali ya dengan bagaimana perempuan-perempuan Aceh sekarang dibentuk melalui peraturan-peraturan daerahnya.”

Semangat  untuk menarik sejarah dalam konteks kekinian itu pun menulari
Helvry. “Aku merasa ada kemiripan konflik cukup tinggi pada zaman Cut Nyak Din dan era pemberlakukan Daerah Operasi Militer(DOM).  Buku ini membuat aku punya anggapan, ada semacam karakter umum orang Aceh yang selalu menolak kekuatan asing yang masuk. Dulu ataupun sekarang. Dan aku rasa buku ini menjadi jembatan untuk membuka arsip-arsip lama,” katanya.
Evi  dan Lita mengangguk, membenarkan. Mia mengimbuhi, ”Ini asyik nih.
Selama ini kita membuat stereotip umum tentang Aceh. Tapi dari buku ini kita paham, di Aceh pun ada macam-macam kelompok yang tidak mudah saling mengalah. Ini sebetulnya jadi pengantar yang baik sekali, bisa dipelajari bagaimana agar mereka mau bersatu. Ya kalau pemerintah mau balik kepersoalan itu sih. ”
“Iya, Aceh sendiri kan ada yang sekuler dan fundamentalis. Aku jadi ingat,
ada sebuah perjanjian. Aku lupa namanya tapi perjanjian itu membagi wilayah Aceh , untuk wilayah mereka yang sekuler dan fundamentalis. Pidie misalnya, itu wilayah kaum fundamental,”  kata Lita.
Penyuka buku-buku sejarah Indonesia itu lantas memberi gambaran tentang Papua. “ Di Papua, suku Amungme dikenal sebagai suku yang menggantungkan hidup dari pertanian. Nah suku Dani memang suku yang senang perang. Ketika Freeport mengambil alih lahan suku Amungme dan memindahkannya ke wilayah suku Dani, ya jelas suku Dani enggak terima dong. Tapi pihak keamanan kan enggak ngerti bahwa perang baru selesai ketika jatuh jumlah korban yang sama. Nah, mungkin
hal serupa terjadi di Aceh. Mungkin ada banyak peraturan antar mukim yang
kita enggak tahu, dan pemerintah juga enggak mau tahu,” urai Lita.

Harta Karun
Szekely, disebutkan Martina dari Penerbit Komunitas Bambu(Kobam), pernah mengarang dua novel, yaitu Ruber dan Koeli. Keduanya berlatarbelakang perkebunan Deli di Sumatera Timur tempat Szekely pernah dibesarkan dan mengalami langsung pahit dan kelamnya pola hubungan kuli kontrak dan tuan tanah.  “Kalau yang dua itu, drama sekali,” ujar Martina.

Karena sempat besar di Aceh, tahun 1900-an, sudut pandang Szekely  terasa
sangat lokal. Perempuan  itu berayahkan Residen Lulofs, terkenal
sebagai  bestur yang adil di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.  Lulofs tidak termasuk golongan Belanda yang kolonial. Dia tidak menggunakan kekuasannya untuk menindas rakyat yang tidak berdaya.

Saat dewasa Szekely mulai membaca riwayat perang Aceh. Banyak yang ditulis oleh orang-orang Belanda. Temuan terbesar Szekely atas riwayat itu ia dapati dari surat-surat Snouck Hurgronye. Dalam salah satu naskah, terdapat riwayat yang disyairkan Dokarim. Szekely mendapati nama-nama penting dalam Perang Sabil. Dia melanjutkan pembacaannya dengan mengumpulkan keterangan mengenai Perang Aceh dari pelaku sejarah. Sayang, tidak ada keterangan mengenai detil mengenai perang gerilya yang dipimpin Din.

Tahun 1948, buku Cut Nyak Din diterbitkan di Belanda dengan judul Degeschiedenis van enn Atjehse vortsin.  Lebih dari setengah abad kemudian, tahun 2004, seperti harta karun buku  itu ditemukan  sejawaran muda JJ Rizal di perpustakaan pribadi Sitor Situmorang.

“Ketemu saat membongkar perpustakaan pribadi Pak Sitor. Ya mungkin
dikasihtahu Pak Sitor kalau buku itu bagus, karena bang Rizal sendiri kan
enggak bisa Bahasa Belanda. Setelah diterjemahkan, memang ternyata buku itu bagus sekali. Kami menerbitkan pertama kali tahun 2007, lalu bulan Juni
2010,” cerita Uswatul Chabibah, pemimpin redaksi Kobam.

Bisa jadi, pendapat perempuan yang akrab disapa Uswa itu tidak
berlebihan.  Peserta OPMI pun sepakat menunjuk buku ini sebagai buku yang penting dibaca, lepas dari persoalan lembaran halaman yang terasa padat dengan marjin yang sempit. (Sic)

–Sumber: Media Indonesia edisi Sabtu, 4 Desember 2010

Rating

Helvry Wilhem Sinaga
Akuntan, 27 tahun

Rating —lima bintang

“Ada kekurangan sedikit mengenai banyaknya kesalahan ketik dalam buku ini.
Tapi buku ini menjadi jembatan untuk membuka arsip-arsip lama mengenai
Aceh.”

Evi Yunianti
Staf administrasi perusahaan export, 32 tahun
rating — 4

“Kekuatan buku ini karena menggambarkan sisi personalitas yang menonjol.  Ada
gambaran yang detil mengenai orang-orang di sekeliling Cut Nyak Din.”

Mia Fiona
Sekretaris di sebuah LSM, 31 tahun
Rating: empat bintang

“Diluar cara menulis Skezely yang <i>muter-muter<p> untuk menceritakan
sesuatu, khas penulis dulu, buku ini asyik karena penggambaran emosinya
benar-benar terasa.”