Hampir dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 31 Oktober 2010, saya berkesempatan dengan teman-teman dari Goodreads Indonesia wilayah Yogyakarta bersama dengan anak-anak Canting, dari komunitas blogger di Kompasiana, bergabung dalam suatu kegiatan dalam rangka peduli sosial.

Teman-teman dari Canting sudah membuat reportase akan kegiatan tersebut dalam blog mereka, yaitu Meisha di sini, dan Bellinda di sini. Mungkin jika teman-terman tertarik meneruskan apa yang kita kerjakan dapat menelusuri lewat tautan di atas. Selanjutnya, apa yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana perjalanan ini dari versi saya. Sesungguhnya keputusan saya untuk mengikuti acara ini bukanlah perkara yang simpel. Sebelumnya saya sudah dikabari oleh Ibu Koordinator GRI Jogja, bahwa tanggal 31 Oktober 2010, mereka akan berangkat berdarmawisata ke Candi Ijo. Saya tidak paham itu dimana, yang jelas tempat jalan-jalan. Sampai meletusnya Gunung Merapi tanggal 26 Oktober 2010, akhirnya membuat rencana tersebut berubah. Salah seorang anggota GRI Jogja mengusulkan untuk mengubah tujuan dan jenis acara menjadi berkunjung ke daerah pengungsian di seputaran daerah Merapi.

Saya mengalami keraguan untuk memutuskan apakah harus ikut atau tidak. Mengingat hari tersebut supervisor saya datang dari Jakarta. Dengan segala macam pertimbangan, Akhirnya saya memberanikan diri untuk meminta izin dan akhirnya dikabulkan. Persoalan belum selesai, karena saya ikut dengan transportasi apa? Lama saya berpikir mencoba-coba berbagai kemungkinan. Saya menanyakan rental mobil avanza di Jogja, ternyata untuk harga weekend cukup mahal, 12 jam seharga Rp200.000, padahal hari biasa kira-kira Rp125.000 dan tentu saja belum termasuk bahan bakar. Hal ini membuat saya putar memori lagi, siapa teman yang bisa dipinjemin mobil. Ada dua kandidat sebenarnya, cuma saya ragu karena akrabnya nanggung. Disinilah Tuhan bekerja, Ia selalu punya cara yang tidak terduga. Saya menghubungi Mbak Ayu, rekan satu tim yang baru kenal satu minggu selama di Jogja, dan ia berbaik hati untuk meminjamkan mobilnya. Dan yang bikin saya makin tidak enak adalah, mobilnya diantar langsung oleh supirnya ke tempat saya menginap. Weleh..ini keadaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, dan Tuhan bekerja jauh lebih dari yang saya bayangkan.

Singkat cerita, setelah berkumpul dan briefing dengan teman-teman yang lain, kami berangkat. Saya mendapat teman baru yang banyak sekali. Saya bersyukur, sebab saya belum tentu mendapat kesempatan yang serupa di masa-masa mendatang. Nah, apa yang kami lakukan selama di tempat pengungsian adalah menghibur anak-anak. Kenapa anak-anak? karena anak-anaklah yang paling mudah diajak bersukacita. Kami membagi anak-anak dalam kelompok pengungsian dalam tiga kategori, pra sekolah, kelas 1-3, dan kelas 4-6. Saya kebagian kelas pra sekolah. Bersama Putri, kami menjadi koordinator.

Apa yang saya lihat adalah, anak-anak adalah manusia yang tulus. Walau saya sedikit mengalami kendala semantik, yakni tidak bisa berbahasa Jawa, namun bahasa universal yang dapat menjembatani antara kami dan anak-anak adalah nyanyian. Mereka bersemangat ketika diajak bernyanyi. Saya melihat raut muka berseri-seri dan tidak ada satupun dari mereka yang paham, seberapa besar erupsi Gunung Merapi? mereka tidak ambil pusing. Bagi mereka, bernyanyi dan bermain adalah pekerjaan mereka, selebihnya adalah urusan orang dewasa.

Pekerjaan kami adalah menghibur mereka. Saya melihat raut senyum dari beberapa orangtua yang menyaksikan anak-anaknya bermain. Entah di dalam benak mereka terdalam, bagaimana rumah dan ternak mereka, bagaimana sawah dan ladangnya, bagaimana ini, bagaimana itu, seraya sirna sejenak manakala melihat buah hati mereka tertawa-tawa karena girang. Dan ajaibnya, sayapun terhibur. Saya melihatnya dari sorot mata anak-anak itu. Mereka tak memedulikan bagaimana harta, sawah, ladang, sapi, ternak, rumah, makan apa hari ini. Saat itu sepertinya mereka “fokus” untuk bermain. Saya mendapat pencerahan pada saat itu. Kadangkala saya tidak memosisikan diri seperti anak-anak di atas. Saya terlalu sibuk kesana-kesini, terlalu rumit memikirkan pekerjaan dan aktivitas, khawatir dengan hal-hal yang kadangkala dipikir-pikir tidak terlalu signifikan, dan banyak hal-hal lain yang membuat saya cukup stress. Saya kadang melupakan bahwa ada kalanya kita harus stop, dan mulai menikmati apa yang ada di depan. Setiap hari dalam hidup ini pasti selalu ada masalah, tinggal bagaimana kita mau membiarkan diri kita larut dalam masalah, atau miliki waktu untuk sedikit saja untuk berefleksi atau melibatkan diri dalam suatu pengalaman yang membuat kita merasakan bahwa masalah kita bukanlah segalanya.

Setiap tindakan yang kita ambil tentunya memiliki risiko. Tapi kenapa mesti takut? bukankah dalam hidup ini kita senantiasa berhadapan dengan risiko, kalau tidak mau berisiko tinggal saja di rumah dan nggak perlu keluar. Ada hal-hal baru di luar sana yang mungkin selama ini terluput dari perhatian kita. Berita tentang bencana di negeri ini bukanlah hal baru. Media cetak dan elektronik dengan sukses telah memberitahukan kepada masyarakat luas. Namun, pengalaman baru yang saya peroleh adalah saya dapat merasakan bagaimana hidup di tempat pengungsian. Raga di tempat, namun hati mengembara. Makan tidak lahap, tidur tidak nyenyak, bersiaga karena mungkin mereka harus dievakuasi. Bagi saya pengalaman ini memberi saya pelajaran tentang sisi lain kehidupan manusia. Seperti Artikel Kompas hari ini, “Merapi Akan Terus Punya Makna” yang meyebutkan bahwa pelajaran Merapi adalah: tidak ada artinya punya uang banyak, karena dalam sekejap lumpuh akibat erupsi; Rasa panik akan bahaya erupsi Merapi menimbulkan perilaku mesra antarsesama yang sebelumnya meluntur; dalam masa erupsi ini, akan terlihat semua apa adanya apa yang baik dan apa yang buruk; berbagi hidup dengan menyelamatkan warga di kaki gunung yang menjadi pengungsi.

Saat ini masih ada ribuan pengungsi dan relawan yang ada di lereng Merapi, mereka bahu-membahu untuk memastikan logistik, mengantar nasi bungkus, menyalurkan pakaian dalam, pembalut, pampers, mengumpulkan Handuk, Selimut, Pakaian, Kasur Bayi, Susu 0-1 tahun, Sembako, menyiapkan MCK, saling memberikan semangat, komunikasi yang tiada henti, memutar film  di pengungsian, dan masih banyak tindakan baik lainnya.

Saya melihat kebersamaan yang luar biasa yang menyentuh rasa kemanusiaan. Hormat kagum saya pada saudaraku relawan semua, pengalaman sehari saya tidaklah apa-apa dibandingkan Anda semua. Semoga Tuhan membalas kebaikan saudara.

@hws121120