pasokan air dari PAM Jaya menipis disebabkan sumber air yang mau diolah juga menipis. Warga sudah mulai mengeluh akibat kelangkaan air ini. Wajar. Disamping listrik, ketersediaan air bersih adalah merupakan hal yang tidak bisa tidak, haruslah tersedia.

Alternatif lain adalah air tanah. Beruntung di tempat saya tinggal air tanah masih jernih banget dan tidak berbau. Padahal, disekitar tempat saya tinggal, tempat resapan air yaitu pohon-pohon tidaklah sebanyak seperti di Monas atau di Kebun Raya Bogor.

Mungkin belum begitu populer penggunaan sumur injeksi di kota besar seperti Jakarta ini. saya baru pernah melihat itu di Jogja. Cukup efektif menggantikan air tanah yang terus menerus di ambil ke permukaan. Saya melihat seperti tanggung jawab moral kita untuk mengisi kembali air yag sudah kita ambil. Saya menduga, jika sumur injeksi itu dibuat di (tepi) jalan di mana sering air tergenang/banjir, pasti air disana tidak akan menggenang lagi, hitung-hitung mengurangi sedikit banjir ini.

hal serupa bisa juga dilakukan di komplek perumahan. karena tidak semua komplek perumahan terlewati jaringan PAM, biasanya para penghuni mengambil air tanah. Tidak salah juga dalam perencanaan, komponen sumur injeksi dimasukkan dalam harga rumah. Sepertinya hal itu belum bisa saya lakukan sekarang, nanti aja deh kalau udah punya rumah sendiri

*postingannggakjelas*