Goodbye Parahyangan. Simpan rahasiaku bersama kepergianmu. Demikian tertulis dalam kalimat di situs jejaring sosial, Facebook, yang juga dikutip oleh Harian Kompas Minggu 2 Mei 2010. Setelah saya ingat-ingat, saya naik kereta Parahyangan hanya dua kali. Kali pertama Tahun 2002, dan kali kedua Tahun 2007.

walau tidak sebegitu mellownya seperti para pengguna Parahyangan yang lain, Hal yang paling saya ingat ketika mengendarai moda transportasi ini adalah melintasi jembatan di atas (nggak tahu apa namanya) serta sewaktu rel kereta menembus gunung sehingga keretanya seperti berada dalam terowongan.

Yah..akhirnya sang kereta harus tersingkir dalam persaingan, dengan dibukanya jalan tol Cipularang menambah satu lagi aktivitas transportasi yang tersingkir. Setelah giliran rumah-rumah makan dan persinggahan yang dulu ramai ketika menuju Bandung lewati Puncak, sekarang giliran Parahyangan.

Yah semoga dengan tidak beroperasinya Parahyangan, tidak membuat St Hall semakin sepi.
*malammalambarupulangpostingnggakjelas*