Ketika kita belajar dari orang yang lebih berpengalaman atau yang lebih tua, biasanya yang kita dapatkan adalah hal-hal yang berupa pencerahan. Termasuk ketika pada suatu kesempatan saya menghadiri suatu workshop yang pembicaranya adalah Bapak Theodorus Tuanakotta, seorang partner senior pada Kantor Akuntan Publik yang berafiliasi dengan Big Four Audit Firm, Deloitte.

Orang yang sudah malang melintang di tengah pekerjaannya biasanya mengajarkan kita suatu filosofi. Dengan filosofi itu kita akan mengerti mengapa saya mengerjakan A, konsep atau pemikiran apa yang melandasi bila kita akan menempuh suatu cara/tindakan. Beliau mengemukakan bahwa ketika bergabungnya konsep-konsep/pemikiran maka akan muncul suatu pencerahan. Semua bidang ilmu memiliki filosofi ilmu itu sendiri, bukanlah sekedar ilmu yang given seperti yang kita terima saat ini. Semuanya itu telah melewati tahapan-tahapan pemikiran dan penyempurnaan dari generasi ke generasi.

Dari situ saya sedikit punya jawaban mengapa orang-orang terkenal memiliki suatu motto hidup, kata-kata bijak, atau apalah istilahnya. Itu merupakan penemuan dimana bergabungnya konsep-konsep yang sudah dipahaminya ditambah pengalaman hidup dan setelah melalui proses permenungan lahirlah refleksi atau kata-kata bijak. Sehingga tak heran jika tokoh-tokoh dunia akan mengucapkan:

“Jangan sekali sekali melupakan sejarah” Soekarno
“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” Arai
Being unwanted, unloved, uncared for, forgotten by everybody, I think that is a much greater hunger, a much greater poverty than the person who has nothing to eat.” Mother Teresa
“A genuine leader is not a searcher for consensus but a molder of consensus.” Martin Luther King Jr
Be kind whenever possible. It is always possible.” Dalai Lama
“All, everything that I understand, I understand only because I love.” Leo Tolstoy
“Geography has made us neighbors. History has made us friends. Economics has made us partners, and necessity has made us allies. Those whom God has so joined together, let no man put asunder.” John F Kennedy

dan tentu saja tidak kalah “…, gitu aja kok repot.” Gus Dur

selanjutnya, dari kita donk….