Peristiwa ini terjadi ketika coffee break. Saya dan teman saya bersebelahan sedang menuang kopi panas dari wadahnya ke cangkir masing-masing. Seperti pada umumnya, terdapat pilihan bagi yang suka gula kristal, gula aren, dan pemanis rendah kalori.

Teman saya melihat saya mengambil dua sachet pemanis rendah kalori yang merk-nya cukup terkenal itu. Ia bertanya pada saya, “apa itu?”
“Ini pemanis, mas”
“Lalu apa bedanya dengan ini?” Seraya menunjukkan sachet yang berisi gula aren.
“Wah beda mas, ini bagi orang yang lebih suka kopinya dikasih manis yang diet kalori.”
“Kalau gitu saya coba ah..”
“Silahkan mas, kalau mau lebih nendang manisnya, untuk secangkir kopi ini, minimal dua sachet mas.”
“Ok deh”
“Gimana mas? beda ya rasanya?”
“wah mantap bener nih…enak kok”
“Biasanya kalau udah terbiasa dengan gula putih akan merasa berbeda kalau pakai pemanis mas”
“Oh..gitu ya..tapi enak kok”

begitulah cerita singkat ketika coffee break pagi.

malamnya, saya melihat teman saya itu kembali sedang menyobek sachet pemanis rendah kalori tadi. Langsung saya komentari, “Wah mas, sepertinya tertarik benar pakai itu sekarang?”
“Iya nih, setelah 33 tahun baru kali ini saya minum kopi pakai TR*PI**N* SL*M, ternyata enak juga yaa..”
“Ha..ha..ha….”

Saya jadi geli membayangkan ekspresinya ketika ia senang banget meminum kopi dengan “gula” yang lain.

*pengaruhkopiyangmembuatmeleksampaijamsegini*