Setelah mengobrol dengan salah seorang teman di Gorontalo, aku sedikit mendapat pencerahan. Dua orang teman lebih tepatnya. Satu orang berprinsip bahwa dalam setiap pekerjaan, hal atau karya apa yang sudah kau kerjakan? semesntara satu orang teman yang lain berprinsip bahwa pekerjaan itu harus dinikmati dan tidak usah terkekang. Sepintas tidak ada yang aneh dengan hal ini. wajar-wajar saja toh dengan prinsip yang berbeda dan unik?

Namun setelah menelisik lebih dalam, saya memeroleh pemahaman yang berbeda. Dari bincang-bincang selanjutnya, saya memeroleh konteks permasalahan yang berbeda. Teman saya yang pertama, sebut saja Dw adalah seorang pekerja IT, yang selalu berkutat dengan laporan yang ia harus compile dari jenjang di bawahnya untuk dilaporkan ke kantor pusatnya. Sehari-hari ia berusaha menyediakan informasi yang dibutuhkan bosnya sewaktu-waktu. Tak jarang ia harus pulang jam 11 malam dari kantor untuk menyelesaikan laporan yang diperlukan. Satunya lagi, sebut saja An, adalah seorang pegawai go.id, menurut penuturannya, ia masuk ke sini atas permintaan istrinya. Sebelumnya ia bekerja di swasta. Selama di kota ini, ia bekerja sesuai dengan keinginannya, yaitu tidak mau terkekang dan memiliki suatu usaha di luar pekerjaan utamanya. Alasannya, di daerah tempat bekerjanya sekaeang, banyak sekali peluang untuk berbisnis, ia merasa tidak cukup jika hanya mengandalkan gajinya saja untuk membiayai ia, istri, dan anaknya. Karena itu, ia memulai suatu usaha, dan cukup berjalan dengan lancar, dan ia sedang menjajaki jenis usaha-usaha yang lain. Ia menambahkan bahwa suatu saat kalau sudah tiba waktunya, ia akan keluar dari pekerjaannya sekarang dan berkumpul kembali dengan keluarganya di Jawa.

Aku sendiri hanya termenung menyaksikan kedua fakta di atas,
**sigh**