Postingan dari artikel milis. Kesimpulan yang saya dapat
1. Kita (pada umumnya) belum begitu biasa menyimpan atau mencatat suatu peristiwa dalam dokumentasi. Hal itu membuat “catatan” sejarah kita sangat minim.
2. Fakta-fakta sejarah yang sudah terdokumentasi pun, ternyata tidak bebas salah saji. Kita banyak memeroleh fakta-fakta lain yang mengejutkan dari orang-orang “biasa.”
3. Tidak salah kalau kita tidak cepat percaya. Pemerolehan pengetahuan yang kita dapat pun perlu diuji, atau ketika sudah melewati “saringan” metodologi ilmiah sekalipun, akan bisa terbantahkan lewat temuan-temuan baru.

Mengapa Kesaksian ‘Orang Biasa’ Penting Dalam Sejarah?
Oleh: Aiko Kurasawa

Mengapa Sejarah Sosial Penting

Sejarah yang telah kita pelajari di sekolah selalu fokus pada sejarah politik. Misalnya, pembentukan kerajaan atau negara, pergantian penguasa, sistem dan susunan pemerintahan, ekspansi (ekonomi dan pendudukan) ke luar negeri, serta hubungan resmi diplomatik antar negara dan sebagainya. Topik pembahasan mengenai ekonomi selalu berorientasi pada ekonomi makro.

Sementara aspek sosial yang dipandang dari perspektif rakyat biasa di tingkat akar rumput hampir bisa dikatakan tidak ada.

Salah satu alasan klasik ketiadaan aspek social ini adalah karena pada umumnya rakyat kecil tidak meninggalkan catatan atau memberikan jejak tulisannya sehingga menyebabkan kita tidak bisa mengetahui sejarah mereka.

Oleh sebab itu sejarah yang kita pelajari dalam sejarah mainstream bisa dipastikan tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya. Tidak adanya tulisan atau dokumentasi sangat membatasi pengetahuan kita tentang sejarah rakyat atau orang biasa dalam masyarakat.

Penelitian Sejarah Sosial di Masa Pemerintahan Militer Jepang

Saya sendiri sehari-harinya mengajar sejarah social di universitas saya. Sejarah sosial sama dengan artinya sejarah kehidupan rakyat sehari-hari. Selama hampir 20 tahun sejak penulisan skripsi S1 hingga disertasi Ph.D, saya secara konsisten melakukan penelitian tentang perubahan masyarakat desa, khususnya pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam proses pengumpulan data di tingkat orang biasa, yang mengambarkan kehidupan orang desa pada umumnya, saya sering mendapatkan cerita-cerita tentang berbagai kalangan penduduk yang nasibnya dipermainkan oleh kekejaman peperangan.

Kali ini saya menceritakan apa yang saya pelajari dari penelitian yang pernah saya lakukan.

Pertama saya akan bicarakan mengapa sejarah dari perspektif rakyat memiliki arti penting, khususnya untuk analisa penelitian ilmiah. Kedua, saya akan memberi beberapa contoh orang Jepang di kalangan rakyat jelata yang nasibnya dipermainkan oleh perang. Korban perang bukan hanya orang Indonesia, tetapi juga ada rakyat Jepang yang tinggal di Indonesia. Biasanya, yang menjadi korban selalu rakyat kecil dan nasib mereka ini tidak begitu diketahui oleh masyarakat.

Mengapa Kesaksian dari Masyarakat Biasa Penting?

Saya mulai dengan poin pertama, yaitu mengapa perspektif sejarah orang biasa merupakan hal yang penting.

Arsip atau dokumen tertulis tentang zaman Jepang di Indonesia sangat terbatas. Hal ini disebabkan karena pemerintah militer Jepang dengan sengaja menghancurkan dokumen. Tetapi sebagian dokumen yang lolos dari kerusakan disita oleh Belanda dan kini disimpan di Arsip Nasional Belanda. Juga dokumen yang sempat selamat dikirim ke Jepang sebelum selesai perang. Dokumen tersebut merupakan sitaan dari tentara Amerika yang tidak dibakar. Memang pada kenyataannya ada sebagian arsip yang selamat. Namun, sayangnya dokumen-dokumen tersebut hanya mencerminkan kebijaksanaan pemerintah militer Jepang di tingkat pusat atau paling rendah di tingkat provinsi.

Tidak ada dokumen yang mengungkapkan bagaimana kebijaksanaan itu dilaksanakan dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat biasa. Untuk mengungkap hal tersebut sangat diperlukan arsip di tingkat kecamatan dan desa.

Tidak diketahui mengapa arsip di tingkat pemerintah lokal yang paling bawah sama sekali tidak disimpan. Kalau beruntung, kadang-kadang masih bisa diketemukan dokumen yang disimpan secara pribadi oleh mantan kepala desa dan lain-lainnya.

Tetapi hal ini merupakan kasus langka. Salah satu faktornya, kemungkinan besar dikarenakan belum ada kesadaran akan pentingnya arsip dalam masyarakat. Pada waktu saya tinggal di Indonesia sebagai mahasiwa pada awal 1970-an saya pernah melihat arsip zaman Jepang dipakai untuk bungkus kacang dipinggir jalan.

Metode Oral History

Dikarenakan kurangnya arsip atau dokumen yang tersedia, saya memakai metode oral research atau wawancara dengan masyarakat biasa di desa pada awal 1980-an. Pada waktu itu masih ada banyak orang yang pernah mengalami zaman penjajahan Jepang. Responden saya bukan hanya tokoh atau orang besar, tetapi siapa saja yang pernah mengalami zaman Jepang.

Di tingkat desa tidak ada kebiasaan menyimpan catatan dan dokumen. Catatan tentang nama-nama kepala desa pun tidak tercatat. Saya terpaksa menggantungkan pada ingatan orang-orang dengan memakai methode oral research. Sekaligus saya menanyakan apakah responden itu masih memiliki sesuatu atau materi peninggalan kehidupan sehari-hari.

Sebagai hasilnya saya menemukan banyak hal-hal yang tidak lazim yang dapat diperoleh dari arsip yang ada.Selain itu saya mendapatkan kesimpulan yang sangat beda setelah mengumpulkan data dari rakyat biasa tadi. Agar kita semua lebih mudah mengerti, saya akan menjelaskan masalah ini dengan mengambil dua contoh.

Hasil Investigasi Distribusi Padi

Salah satu contoh yang saya angkat adalah alokasi jumlah jatah padi yang harus diberikan kepada pemerintah Jepang. Telah diketahui bersama bahwa Tentara Jepang telah mengalokasikan jatah padi bagi petani yang harus dijual ke pemerintah militer Jepang. Menurut arsip pemerintah Jepang, jatah wajib jual itu tidak begitu besar dan tidak sampai menimbulkan kelaparan petani sendiri. Arsip-arsip Jepang itu bersifat rahasia atau bukan untuk publikasi dan propaganda, oleh karena itu hampir bisa dikatakan tidak mungkin ada manipulasi data. Pejabat Jepang yang ikut bekerja di pemerintahan militer pada waktu itu semua mengatakan program penyerahan padi wajib mestinya tidak begitu berat.

Tetapi menurut kenyataan dan hasil penelitian saya di desa, program itu ternyata sangat memberatkan kehidupan petani dan menimbulkan kelaparan secara luas di masyarakat Indonesia.

Unsur apa di balik adanya perbedaan keterangan dalam sejarah ini?

Hasil penelitian yang lebih lanjut memberikan jawaban terhadap misteri tersebut. Kantor provinsi yang menerima perintah tentang jatah dari pusat, menambah jatah pada saat menurunkan perintah ke kabupaten di bawahnya. Lalu aparat kabupaten juga menambahkan lagi pada saat menurunkan perintah ke tingkat kecamatan. Demikian pula yang terjadi dari tingkat kecamatan ke desa. Jadi perintah yang diterima di tingkat petani sudah menjadi sangat berat. Mereka hampir tidak bias menyimpan sisanya untuk kebutuhan makanan sendiri ketika harus memenuhi perintah tersebut.

Hal ini terjadi karena petugas khawatir apabila jatah diminta oleh pemerintah militer Jepang tidak terpenuhi, mereka akan kena marah, sehingga harus menambah jumlah jatahnya. Sehingga diduga terjadi mark-up dan jumlah harus dinaikan terlebih dulu. Apalagi korupsi juga sering terjadi di tiap tingkat pemerintah dan padi yang dikumpulkan sering hilang.

Beban petani lebih berat lagi daripada yang diperkirakan semula. Bahkan, padi yang telah dikumpulkan dan dikirim dengan kapal sering kena bom sekutu dan tenggelam. Apabila hal ini terjadi, maka pemerintah lokal sekali lagi memaksa petani agar menjual sisa padi ke Jepang. Kisah-kisah ini tidak pernah terungkap dalam arsip Jepang.

Dengan demikian,terdapat selisih yang besar antara rencana semula dan dalam pelaksanaannya. Kita tidak bisa mengetahui seberapa jauh selisih tersebut itu kalau tidak mengambil keterangan dari rakyat biasa. Sampai sekarang orang-orang Jepang yang dulu pernah turut serta dalam pemerintahan militer Jepang di sini, kecuali pembesar yang mengerti maksud sebenarnya Jepang menjajah Indonesia, yakin bahwa mereka tidak pernah melakukan sesuatu yang kejam terhadap rakyat Indonesia. Malahan mereka berpikir mereka datang ke Indonesia untuk menolong bangsa Indonesia.

Studi Kasus: Besuki

Saya akan memberi satu contoh lagi. Contoh ini juga ada kaitan dengan pemungutan padi di salah satu kabupaten di Keresidenan Besuki, Jawa Timur. Menurut catatan yang ada dari statistik Jepang, hasil pengumpulan padi pada tahun 1944 sangat baik. Biasanya persentasi padi yang berhasil dikumpulkan adalah 50-70 persen dari jumlah riil yang diminta. Sedangkan di kecamatan itu persentasinya lebih daripada 100 persen. Dari statistic tersebut sejarawan semestinya bisa membaca sesuatu yang luar biasa. Tetapi untuk mengetahui unsur apa yang ada di belakang angka tersebut harus dilakukan penelitian di kalangan masyarakat setempat.

Saya datang ke daerah itu dan melakukan wawancara intensif dan akhirnya berhasil mengetahui bahwa pada masa sebelum angka luar biasa itu muncul, bupati, semua camat di kabupaten itu dan beberapa kepala desa ditangkap oleh kenpeitai tanpa alasan yang jelas. Menurut Kan Po atau Berita Gunseikanbu yang resmi, mereka dipecat dengan alasan melanggar kode etik, tetapi tidak disebut mereka ditangkap oleh kenpeitai. Nasib mereka tidak diketahui sampai sekarang, tetapi ada keterangan oleh seorang mantan sopir yang pernah diberi tugas membawa pamong praja dari Besuki ke hutan, tempat eksekusi di Bojonegoro. Jadi besar kemungkinan bahwa mereka telah dihukum mati.

Tetapi sejarah ini sama sekali tidak dicatat dalam sejarah resmi. Tanpa keterangan dari rakyat biasa, kita tidak bisa tahu apa yang terjadi dibelakang pemecatan pamong praja itu. Hasil pengumpulan padi yang sangat tinggi bisa diinterpretasikan sebagai hasil ketakutan pamong praja baru yang menganti mereka.

Kesadaran Orang-Orang Jepang yang tinggal di Indonesia

Sebelum menutup penjelasan saya mengapa sejarah dengan perspektif orang biasa sangat penting artinya, saya ingin menambah satu episode kisah lainnya.

Pada umumnya orang Jepang yang tinggal dan bekerja di Indonesia pada waktu saya mengadakan penelitian ini pada tahun sekitar 1980 percaya dan beranggapan bahwa zaman Jepang di Indonesia tidak terlalu pahit dan bangsa Indonesia berterima kasih kepada Jepang karena pendudukan militer Jepang mempercepat dan menolong proses kemerdekaan Indonesia.

Pengetahuan dan pengertian demikian berasal dari pembicaraan mereka yang pribadi dengan pembesar-pembesar Indonesia yang kebetulan mendapat keuntungan pribadi dari zaman Jepang seperti opsir tentara PETA. Memang benar sebagian orang Indonesia memanfaatkan kesempatan yang diberi oleh tentara militer Jepang untuk meningkatkan status social mereka. Orang-orang Jepang di Jakarta sering mendengar cerita manis hanya dari orang orang demikian, yang merupakan kelompok kecil dan memiliki sangat sedikit kesempatan berbicara dengan rakyat biasa di desa. Jadi mereka mempunyai imej atau gambaran sejarah dengan versi yang sangat beda dari kenyataan.

Agar bisa memahami sejarah yang sebenarnya kita harus memperhatikan suara rakyat kecil juga.

Meskipun sama-sama memiliki status sebagai “rakyat”, keterangan sejarah menjadi sangat berbeda tergantung pengalaman orang yang dijadikan sebagai saksi. Dibutuhkan keterangan dari berbagai jenis kalangan masyaraka. Tetapi suara rakyat kecil perlu lebih diperhatikan dalam penelitian, karena mereka tidak mempunyai kesempatan mempublikasikan suaranya kepada dunia.

Orang besar, atau kaum terpelajar bisa meninggalkan catatan atau mempunyai kesempatan bicara di muka umum, tetapi rakyat kecil hampir tidak ada.

Pada waktu saya mencari responden, orang desa cenderung memperkenalkan mantan pamong desa atau tokoh-tokoh masyarakat saja, yang lain dianggap “tidak berguna” karena “bodoh” atau “tidak berpendidikan.” Tetapi sebenarnya justru suara orang “bodoh” yang penting karena cerita mereka jarang diperhatikan dan jarang ditulis sebagai sejarah mainstream. Mungkin mereka tidak bisa menilai hal-hal mengenai sejarah dari cakupan yang lebih luas, dan hanya bisa menceritakan pengalaman sendiri. Tetapi itu cukup berguna bagi analisa penelitian secara ilmiah dan akademis.

Sebagai penutup, saya menambah satu hal lagi. Selama wawancara saya selalu bertanya apakah mereka masih menyimpan barang-barang peninggalan zaman Jepang, umpamanya surat keterangan dari pemerintah, besluit, diploma atau dokumen dari sekolah, pakaian goni, alat yang dipakai menimbang beras, kartu pos, surat jalan, kuitansi dan lain-lain. Kadang-kadang barang-barang tersebut yang disimpan orang dengan tidak sengaja, sangat berguna bagi sejarawan. Melalui wawancara dengan orang biasa dan barang-barang (memorabilia) yang dimiliki meraka, saya bisa menkonstruksi sejarah rakyat yang sebelumnya belum diketahui.

Melalui bukti-bukti tersebut saya berani menceritakan bahwa sejarah zaman Jepang di Indonesia sangat kejam dan pahit bagi mereka, rakyat biasa, secara ilmiah (scientific) dan mempertanggungjawabkannya secara akademis. (p!)