Kehilangan orang yang dikasihi sangat menyedihkan. Terlebih bila kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk dapat mengembalikannya. Namun, inilah realita hidup. Hidup di dunia adalah ucapan selamat datang dan selamat jalan. Semuanya akan berjumpa kembali lagi kelak. Berikut ini adalah kisah temanku, Everson. Ia adalah temanku satu bimbingan belajar ketika masih SMU di Medan. Ketika di bimbingan dulu, ia bersama dengan satu “gank”nya memenuhi kelas. Tak disangka, setelah sekian lama akhirnya kami pernah bertemu di Jakarta yang panas dan sumpek ini. Adikku, ezron sudah lama menceritakan bahwa Everson adalah kakak kelasnya di sini. Dan aku juga telah mendengar cerita ini secara lisan sebelumnya, namun baru kali ini ia menuliskannya dalam blognya. Cerita di bawah aku copas dari blog-nya…….

SUNGAI KAMPAR SIMPANG LANGGAM
================================

Simpang langgam adalah tempat penyebrangan yang menghubungkan daratan yang dipisahkan oleh sungai kampar di dekat desa langgam 25 KM (30 Menit perjalanan) dari Pangkalan Kerinci kabupaten Pelalawan, Riau.

Berawal dari tanggal 30 Agustus 2008 Mamaku R. Sihite tercinta berangkat ke Riau Pekanbaru untuk mengunjungi anak pertamanya Elfreth Simamora. Sebagai informasi kami 6 bersaudara:
1. Elfreth H. Simamora berdomisili di Pekanbaru Riau, bekerja sebagai wiraswasta.
2. Romes T. Simamora berdomesili di Jakarta, bekerja sebagai wiraswasta.
3. Everson Simamora berdomesili di Jakarta, bekerja sebagai karyawan swasta.
4. Immer Simamora    berdomesili di Medan (tinggal bersama Bapak/Mama), Mahasiswa.
5. Nicovance Simamora berdomesili di Pekanbaru Riau, Mahasiswa.
6. Nina N. Br. Simamora    berdomesili di Medan (tinggal bersama Bapak/Mama), Pelajar.

Hari itu adalah hari jumat mama berangkat menuju Pekanbaru tepatnya jalan Jawa (kediaman Elfreth S.).

Lama perjalanan kurang lebih 14 Jam dari kota Medan,sesampainya disana mama beristirahat. Hari sabtu 30 Agustus mama dan keluarga yang ada disana melepas rindu dengan berbincang-bincang satu harian penuh. Pada malam harinya mama mengutarakan keinginannya untuk berjalan-jalan di sekitar Pekanbaru.

Minggu pagi mama bangun lebih awal dari biasanya, tidak seperti biasanya dia bergegas mandi dan bersolek, padahal mamaku bukan seorang pesolek. Tak lama kemudian dia menemui abang saya Elfreth, kemudian dia mengajak abang Elfreth (B’El) untuk pergi keluar rumah untuk jalan-jalan. Saat itu B’Elfreth menolak permintaan mama tersebut dengan alasan B’Elfreth sedang sibuk dengan pekerjaanya yaitu mengedit video pernikahan. Hari itu mama tidak jadi keluar dari rumah B’Elfreth oleh karena itu mama merasa jengkel dengan B’Elfreth.

Pada malam harinya Mobile Phone B’Elfrethpun berdering, ternyata seorang temannya bermarga naibaho di kota itu ingin memakai jasa truck3/4 B’Elfreth. B’Elfreth memiliki 3 Mobil yang salah satunya adalah truck3/4 yang biasa digunakan untuk bekerja dan sisanya mobil pribadi. Adapun usaha B’Elfreth adalah pengusaha music batak dan video shooting,memiliki sebidang perkebunan sawit. Hasil peribincangan dengan naibahon tersebut adalah B’Elfreth menerima tawaran naibaho untuk menyewakan truck3/4 miliknya untuk membawa bahan bangunan milik naibaho untuk keperluan membangun rumah singgah di lahan sawit milik naibaho dan kebetulan lahan sawit naibaho dan B’Elfreth berdekatan.

B’Elfreth lantas berfikir untuk ikut bersama dengan truck itu dan mengajak mama serta dengan tujuan berjalan-jalan ke lahan sawit milik B’Elfreth.

Pagi hari tanggal 01 September 2008, mama telat bangun. Mobil truck sudah harus berangkat. Tanpa banyak persiapan B’Elfreth dan mama langsung bergegas berangkat, saat itu mama tidak sempat mandi. Abang Elfrethpung menanyakan hal tersebut pada mama, kenapa mama tidak mandi aja dulu? Mama manjawab tidak usahlah nggak apa-apa kok. Tujuan mobil tersebut adalah rumah naibaho untuk memuat barang. Sesampai di rumah Naibaho b’El berbincang dengan naibaho sembari menunggu barang-barang dimuat ke truk. Pada saat itu mama malah meminta mandi di rumah naibaho tersebut. Karena b’El tau mama tidak mandi dari rumah lantas diapun mengizinkan mama mandi di rumah naibaho. Barang-barang seperti semen, seng, pupuk dan kebutuhan untuk membangun pondokan di lahan sawit telah selesai dimuat, dan pada saat yang bersamaan mama selesai mandi dan rapi-rapi. Merekapun akan segera berangkat menuju tempat tujaun yaitu lahan sawit milik Naibaho yang melewati lahan sawit milik b’El. Selain mama, b’El dan istri naibaho juga ikut karyawan naibaho sekitar 20 orang. Tanpa pikir panjang mama memilih untuk ikut berdiri didalam truk seperti karyawan yang lain, tetapi b’El melarang mama ikut berdiri diatas truk. B’El meminta mama untuk tetap duduk di depan di samping supir agar tidak terkena debu di perjalanan nanti. Mamapun menurut, supirpun masuk ke truk dari sebelah kanan truk, disusul mama masuk dari sisi kiri kemudian disusul oleh istri naibaho dari sisi kiri sehingga posisi mama ada di antara supir dan istri naibaho. Sedang b’El memilih untuk ikut berdiri dengan para karyawan yang sudah naik ke atas truk.

Truk ¾ tesebut langsung melaju menuju lahan sawit yang berada kurang lebih 3 jam perjalanan dari kota pekan baru. Adapun rute yang harus ditempuh adalah melewati simpang langgam kemudian melewati sungai kampar, dari sungai tersebut hanya membutuhkan kurang-lebih 1 jam perjalan lagi. Sesampainya di simpang langgam semua kendaraan harus memperlambat lajunya karena sudah akan sampai ditempat penyebrangan dan semua kendaraan harus antri untuk dapat disebrangkan melewati sungai kampar tersebut. Sungai kampar adalah sungai yang panjang dan sangat lebar, namun belum ada jembatan yang mengubungkan antara simpang langgan dan lahat persawitan tersebut.

Sesampainya di tempat penyebrangan sekitar jam 17.00 WIB tonkang(sejenis ferry yang digunakan untuk menyebrangkan kendaraan) sudah penuh-sesak dengan mobil-mobil pribadi, mobil truk dan bahkan truk-truk gandeng yang besar. Setelah memperoleh tiket truk rombongan mamapun mendekat ke tongkang yang ingin berangkat. Lantas petugas penyebrangan tersebut meminta agar truk yang ditumpangi oleh mama dan rombongan untuk masuk ke dalam tongkang yang notabene sudah penuh. Dengan spontan si supir menolak untuk masuk ke tongkang yang sudah penuh tersebut. Namun petugas penyebrangan tersebut memaksa untuk masuk kebetulan masih ada sedikit ruangan buat truk ¾ tersebut yaitu diantara dua truk gandeng. Mobil tidak masuk secara wajar karena masuk dari sisi kiri tongkang sehingga tidak dapat tegak lurus. Kalau kita perhatikan pada gambar ban kanan truk rombongan mama tidak 100% menggapai lantai tongkang tetapi tergantung setenggah sehingga pintu belakang tongkang juga tidak ditutup rapat.

Setelah menyebrangi sungai yang tenang namun sangat deras di bawah permukaannya, tongkangpun bersandar. Satu persatu mobil-mobil berkeluaran dari tongkang. Tibalah giliran truk yang ditumpangi mama. Trukpun distarter/dinyalakan perlahan si supir melepaskan rem dan menginjak gas. Dan apa yang terjadi pada truk adalah awal dari tragedi, truk bukanya maju eh… malah perlahan mudur. Orang-orang yang melihatpun panik berteriak ” awas……! truk-nya mundur….. awas….” semua orang panik si supirpun ikut panik dia menginjak gas lebih kuat lagi dengan harapan truk dapat maju dan tidak mundur tetapi yang terjadi adalah truk semakin jauh mundur ke belakang. Dorongan mesin tidak sanggup membawa truk ke depan oleh karena posisi ban truk ada yang gantung, muatan truk yang berat. Para karyawan yang semula tenang ikut panik, segera mereka berlompatan ke sungai satu persatu, yang tua maupun yang muda. Oleh karena truk sudah 1/2 tenggelam b’El-pun ikut melompat ke dalam sungai. Ketika b’El melompat dia terbawa arus sampai 5 meter dari tempat dia melompat. Tiba-tiba dia teringat bahwa mama masih dalam truk, sambil berteriak histeris ”mama….! mama…! mama!…..mamaku ada di truk….mamaku ada di truk…. tolong…! tolong…! mamaku ada di dalam truk!”. Dia pun berenang mendekati truk yang nyaris tenggelam. Dengan sigap b’El membuka pintu sebelah kiri truk dan trukpun mulai tenggelam. Di dalam air istri dari naibaho berhasil keluar dari truk yang sudah tenggelam.

Supir berusaha menolong mama dengan menarik keluar ke dari arah pintu kanan tetapi malang pakaian mama tersangkut pada personelling truk tersebut. Karena tidak kuat si supirpun meninggalkan mama dalam keadaan terperangkap. Di dalam sungai arus air sungai sangat deras sehingga pintu truk dengan bantuan tekanan arus sungaipun tertutup. Mamapun benar-benar terperangkap dan kini tidak ada lagi jalan keluar. B’El mencoba untuk menyelam mengejar mobil namun dia tidak dapat lagi menggapainya, mobil tersebut tidak terlihat lagi oleh karena sungai yang keruh dan dalam. Sesekali b’El menarik nafas ke atas permukaan sungai sambil menangis dan kemudian dia mengarungi sungai tersebut berharap dapat menolong mama. Dan yang mengherankan tak seorangpun orang-orang yang ada disana pada saat itu yang tergerak hatinya untuk menolong mama. Akhirnya setelah beberapa menit di dalam sungai b’Elpun kelelahan dan menyerah. Dia menepi kesungai dan meratapi dirinya. Sesekali dia tidak sadarkan diri oleh karena stress dan tidak bisa menerima kejadian yang baru saja terjadi. B’El terus meratap dan terus berharap mama masih selamat, namun waktu sudah menunjuk pukul 18.00 WIB namun tidak ada tanda-tanda. Beberapa dari rombongan tadipun memberikan kabar ke rumah dan kakak iparku langsung menuju tempat kejadian sedangkan adikku Niko tetap di rumah. Pencaharian terus dilakukan waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB namun tidak ada yang berubah, mama belum ketemu juga, bantuan team SARpun tidak kunjung datang.

Saat itu adalah 1 september 2008, pukul 22.00 WIB tanpa sengaja saya menghapus isi suatu tabel di dalam database saya dan tiba-tiba kring….kring.. suara Handpone-ku berbunyi. Saya masih di kantor pada malam itu, kebetulan saya sedang memperoleh masalah di kantor. Aplikasi yang kutangani tidak bekerja semestinya, terjadi kegagalan ketika menarik data transasi ke data warehouse. Saat itu saya mencoba memperbaiki dengan harapan dapat berjalan baik keesokan harinya. Oleh karena saya bekerja dibidang perbankkan, dimana data memegang peranan penting dalam menjalankan bisnis tersebut saya tidak dapat menunggu-nungu untuk memperbaikainya esok hari. Setiap ada masalah dihari yang sama masalah tersebut harus dituntaskan agar tidak terjadi kerugian pada perusahaan. Sebelum mengangkat saya melihat layar hanpone dan yang tertera disana adalah nama adikku Nicovance. Sayapun mengangkat panggilan tersebut. ”Halo dick apa kabar…..?” bukan menjawab malah langsung bebicara: ”abang …. abang baik-baik aja kan?bang abang jangan marah ya saya ingin memberikan kabar buruk bang.”. Wah… saya mulai tidak tenang, yang terlintas di benakku saat itu adalah bahwa mama masuk rumah sakit karena setauku selama ini kesehatan mama sudah mulai melemah.”Ya udah nggak apa-apa kok dick, ngomong aja!” nicopun membalas ”bang…..!mama… bang….,mobil mama masuk kedalam sungai dengan abang El. B’El selamat tetapi mama belum ketemu sampai saat ini.”. Saya tidak ingin mendengarkan lebih jauh lagi, ”ya udah kamu telepon aja dulu ke abang Romes lebih detail ya, nanti saya bicara dengan bang romes aja di rumah.”. Sayapun sangat gelisah beribu pemikiran buruk mulai menghantui pikiran saya. Namau mengingat data sudah harus selesai besok saya pun melanjutkan pekerjaan saya sembari berlinang air mata. Konsentrasiku sirna tetapi apalah dayaku tidak ada yang dapat kulakukan, saya tidak mau semua makin buruk.

Saya berdoa pada YANG MAHA KUASA biarlah kehendakNYA yang terjadi bukan kehendak saya. Tepat pukul 24.00 WIB masalah pekerjaan sudah teratasi, dengan cepat kupacu motorku menuju rumah. Sesampainya di rumah sudah banyak orang yang menantikan kedatanganku. Pintu rumah terbuka lebar dan sanak keluarga sudah pada berdatangan. Hatiku dak-dik-duk dalam hatiku mama sudah ketemu dan dinyatakan meninggal, saya langsung berdoa dalam hati :” TUHAN terimakasih engkau telah membawa saya selamat sampai di rumah, terimakasih atas keputusan yang terbaik yang Engkau berikan pada keluargaku, berikan saya kekuatan ya TUHAN, biarlah Engkau yang berkuasa dalam kehidupanku.” Beberapa orang kakakku anak dari pamanku memelukku dan menangis ”dick…..ma.m.a….dick….ma.maa….” , jawabku:”sabar ya kak.. saya sudah dengar kabarnya kok!, jadi bagaimana cerita detailnya?”. Sayapun bersikap tenang padahal dalam hatiku sudah hancur dan tidak ada harapan untuk tetap hidup.

Ternyata kabar yang saya terima dan yang mereka terima sama, mama belum ketemu dan belum tau kondisi terakhirnya seperti apa. Handpone abang El tidak dapat dihubungi, dan tak seorangpun di Pekanbaru yang dapat dihubungi untuk mendapatkan kabar terbaru. Malam itu kami memutuskan untuk berangkat ke Pekanbaru. Ketika hendak memesan tiket ternyata tidak ada pesawat Jakarata-Pekanbaru yang berangkat dini hari yang ada adalah yang berangkat pukul 06.00 WIB subuh. Kami pun berbenah untuk keberangkatan subuh itu, tepat pukul 04.30 WIB kami berangkat kebandara (saya, b’Romes, dan kakak ipar saya). Tanggal 2 september 2009 pukul 07.30 kami sampai di bandara udara di Pekanbaru.

–end of story–