sampai posting ini diturunkan (jam setengah sebelas malam waktu indonesia barat), hujan masih turun. Sama dengan dua hari sebelumnya, sore ini juga aku kehujanan, cuma nggak separah hari sebelumnya. Kalau mau menikmati dinginnya Jakarta, saat-saat seperti beginilah. Cuma, masalah klasik, ancaman banjir.  Kemarin, daerah kampung melayu udah setingg lutut, nggak tahu deh sekarang. Yang jelas, bukan hanya karena hujan disini, tapi juga karena “asinan” kiriman dari Bogor.

Rasa-rasanya, hujannya udah nggak sehat lagi. genteng rumah kontrakan kami juga bocor, walau nggak terlalu parah sih, kalau hujan deras banget aja baru air hujan merembes ke rumah.  Mau bilang ke pemilik rumah kontrakan, males banget. Sebab ketika dulu ada masalah dengan saluran air dan septic tank dulu, nelponnya aja susah ada orangnya, biarin ajalah, orang rumah kontrakan ini,  hehehehe…

Ternyata beberapa daerah seperti di singkawang juga terkena banjir, seorang kakak yang bekerja di perusahaan asuransi mengatakan, “wah, kayaknya nggak ada lagi polis asuransi kerugian diterbitkan di kalimantan barat, banjiirr.” Niat kami untuk pergi ke rumah salah seorang teman kami untuk merayakan ulangtahunnya juga hampir urung karena takut kehujanan ini. Aku juga diliputi rasa khawatir, kalau-kalau ketika kami pergi terjadi bocor ban, males banget udah malam, ujan, bocor ban pula, lengkap deh. tapi untungnya tadi malam lancar-lancar saja kami pulang balik naik sepeda motor 40 km, hehehehe.

Pulangnya, rasa lapar menyerang. Untunglah masih ada warung yang buka, jadi aku dan adikku beli indomie rebus untuk dimasak untuk memerangi bahaya laten (lapar tengah malam). Akhirnya, kembali ke atas tempat tidur jam 2 pagi, tapi aku belum ngantuk, buka PC, online bentar, lalu tidur, bangun-bangun tau jam berapa saudara? jam setengah delapan! huwaaa….aku terlambat! mana di luar hujan deras banget lagi, akhirnya aku telat absen (dan pasrah credit di rekeningku bulan depan bakalan tidak utuh) hahahaha.

**kesusahan sehari cukuplah sehari**