Coba tebak, dimanakah ini? lokasi ini kerap kali menjadi sorotan utama oleh para wartawan TV setiap tradisi mudik. Setiap hari, ratusan orang hilir mudik disini. Mulai dari penumpang yang menggunakan kereta api maupun yang mau ke bandara.  Hanya saja, Kereta yang singgah di stasiun ini adalah kelas eksekutif dan KRL Express, bagi penumpang KRL ekonomi bisa naik di stasiun Gondangdia atau stasin Juanda.

Kalau dari jauh papan tersebut belum kelihatan, maka lihatlah dari dekat.

Berani menggaransi. Tapi benarkah seperti itu? pengalamanku parkir sepeda motor di Stasiun Gambir, dilakukan dengan sistem computerized, tarif parkir berlaku per jam.  Intinya, samalah dengan yang di mal-mal atau pusat-pusat perkantoran. Cuma, ketika kita membayar di pos keluar,- aku menggunakan istilah ‘ketidaknyamanan’- sekelompok anak meminta “belas kasihan?” dari setiap penumpang yang membayar di pos keluar. Apakah itu termasuk kategori pungutan liar?

Sekali waktu saya pernah keluar dari parkiran Stasiun Gambir sekitar jam 12 malam. Di pinggir pagar monas itu, banyak yang tidur di pelataran parkir itu. Ada seorang anak sedang berbaring menatap langit sambil meniup suling. Sementara, ada seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya. akupun mendorong motorku, setelah agak jauh barulah aku hidupkan mesinnya, supaya sebisa mungkin gas karbondioksida dari pembakaran bensin itu tidak mengisi paru-parunya.  ironis memang. Hanya beberapa ratus meter dari istana negara -lambang pemerintahan negara kita- terlihat kondisi yang sangat berbeda. Seandainya pak SBY jalan-jalan keliling-keliling Monas tiap hari, pasti melihat hal ini. Kecuali, sebelum ia jalan-jalan, satu kompi Paspampres mensterilkan wilayah itu-sesuai protap-.

Lalu, bagaimana?
~jika hati Anda terbuka, ulurkanlah pungutan liar itu~