Sore kemarin, ketika aku mengembalikan buku di perpustakaan kantor, aku terlibat percakapan dengan ibu yang aku lupa (lebih tepatnya tidak tahu) namanya.
Mulanya adalah perkara pengembalian buku (aku telat kembalikan 36 hari!!) lama-lama berkembang ke topik lain, antara lain aku bertanya bagaimana proses pembelian buku-buku terbitan luar negeri. selanjutnya berkembang lagi ke topik, apakah legal mendowload Ebook, menurut Ibu itu tidak legal karena sudah melanggar hak cipta. Menurutku, sah -sah saja sepanjang si Pengarang bersedia membaginya. Beliau terkejut karena aku mengatakan kalau aku punya Harvard Business Review dalam bentuk sofkopi (PDF File), aku bilang kalau aku bersedia membaginya–di perpustakaan sudah langganan HBR–.
 “hah, dapat darimana?” katanya
“banyak kok Bu tersedia di internet, saya punya link khusus kesana” jawabku
“Bisa yah?”katanya seperti tidak percaya.
“Ya bisa dong” jawabku lagi nggak mau kalah.

“Soalnya saya punya password masuk kesana (webnya)” kata Ibu itu lagi.
“Oh gitu ya Bu, saya gratis dapatnya tuh.” jawabku.

Ibu itu senyum senyum saja.

Setelah bercerita agak panjang, akhirnya kembali ke topik arsip di perpustakaan yang tidak teratur. Saya semakin menyadari betapa pentingnya pengarsipan itu. Mulai dari riwayat dari kita kecil sampai sekarang ini. Baik itu berupa surat-surat akta kelahiran, ijazah, sertifikat, foto-foto, video, dan sebagainya. Semua itu akan bicara mengenai kita. Kalau dipikir-pikir, kalau nanti buat autobiografi nggak akan kerepotan lagi ( gaya ).

Mengakhiri pembicaraan itu aku pamit untuk membaca lagi majalah yang ada disitu dan meminta ke beliau katalog pemesanan sebuah jurnal. Soalnya aku tertarik.