Setiap membaca Majalah Tempo, rubrik yang tak kulewatkan adalah Catatan Pinggir yang ditulis oleh Gunawan Mohamad. Entah kenapa, walau kadang tidak mengerti dengan muatan isinya yang seringkali diisi dengan peristiwa-peristiwa bukan pada zamanku, namun aku tertarik.

Kelihatan, kalau Gunawan Mohamad ini sangat luas wawasannya, dan menurutku sangat gemar membaca. Tidak heran seorang wartawan senior seperti punya pengetahuan yang luas tentang sejarah, politik, dan sastra.

Aku pernah mencoba mencari-cari Autobiografi maupun biografi-nya di Gramedia, namun setelah mencari di Google, aku ketemu dengan link ini

 sekelumit komentar para pembaca blog yang dibuat khusus untuk Catatan Pinggir Goenawan Mohamad:

  • Membaca tulisan-tulisan Mas GM seperti membaca inspirasi. Wah salut deh. Kalau bisa, misal tiga bulan sekali diisi wawancara sama beliau.

    Regards,
    Whyu

  • GM memang ibarat sumur yang mata airnya mengalir tak putus. Apa saja — termasuk hal yang kita anggap sepele — jika terkena sentuhan GM, jadi begitu berarti.

    Salam,

    Ichan Loulembah

  • Dengan Bermodal Membaca Catatan Pinggir GM,walaupun tidak semuanya, tapi Manfaat dan Pengetahuan yang saya dapat banyak sekali…salam buat Bung GM juga buat pengelola Blog ini..sukses dan semoga Indonesia mempunyai GM yang lain…….

Dan ini saya kutip paragraf pertama dari Catatan Pinggir edisi 11 Mei 2008


Pada suatu peringatan 1 Mei, sejumlah buruh ditangkap, termasuk Pavel-dan Maksim Gorky menulis novel Mat. Pramoedya Ananta Toer menerjemahkannya dengan Ibunda. Saya kira kata yang lebih cocok adalah “Mak”.

Kalau mau baca lengkapnya, silahkan klik image untuk memperbesar.


******
Mungkin kalau aku yang nulis, nama rubriknya Catatan (yang ter)Pinggir