Sehubungan dengan hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya serta ditambah lagi dengan saluran air yang macet, air menjadi menggenangi jalan-jalan. Akibatnya, jalan-jalan tersebut menjadi rusak. “Keriting”, kata seorang Bapak kepadaku menggambarkan jalan yang rusak tersebut.
Memang benar, sudah dua hari ini aku melewati Jalan Ahmad Yani antara Cawang dan Rawamangun, hampir 60% jalan (perkiraan pribadi) rusak. Ad
a yang berlubang lebar, ada juga yang berlubang kecil, namun dalam. Kalau jalan malam aku rasa pasti banyak yang terperosok masuk lubang tersebut, dan itu sangat berbahaya. Motorku juga sudah menjadi korban keganasan lubang-lubang menganga ini. Karena air tergenang, tidak tahu bahwa itu adalah lubang yang dalam dan terperosok kedalamnya sehingga batok kepala motorku menjadi patah–sampai sekarang belum diperbaiki, hihihi–

Yah begitulah jalanan di ibukota republik ini. Beberapa ruas memang sudah ditambal lagi, namun itu seperti menunggu saja harinya untuk rusak lagi. Penanganannya masih kacau, padahal jargon-nya pemimpin daerah ini adalah SERAHKAN PADA AHLINYA, yah Ahlinya pada kemana tuh…

Satu hal yang bikin aku senyum ketika bermacet-macet dengan pengendara motor yang lain. Stiker yang ditempel di belakang motornya, tertulis seperti ini, CINTAMU TAK SEMURNI BENSINKU.

–Ada ada saja–