Setiap naik Pesawat, hal yang paling tegang bagiku adalah saat pesawat sedang take off. Kalian bisa aja tertawa, tapi jika kalian di sebelahku maka kalian bisa melihat tanganku basah. Karena gugup atau what everlah, yang jelas selalu begitu. Saat menjelang take off dan roda-roda pesawat berpacu untuk menambah kecepatannya, saat itu pula jantungku berdegup kencang. Setelah pesawat mengudara, tidak ada masalah lagi. Aku hanya menatapi tanganku yang berkeringat.

Selanjutnya hal yang dilakukan adalah mencoba untuk tidur. Kalau waktunya relatif dekat seperti dari Jakarta-Jogja atau Jakarta-Lampung yang biasanya memakan waktu sekitar 45 menit, yang aku lakukan adalah melihat ke jendela. Entah kenapa, setiap melihat rumah-rumah yang semakin kecil, jalan-jalan dan sungai-sungai, mengapa bisa tersusun dengan rapi ya…Lalu melihat ada suatu tanah yang kosong tidak ada rumahnya…trus mengapa Pemerintah tidak melihat kota ini dari atas, mengapa harus ada penggusuran, mengapa membiarkan membangun pusat-pusat perbelanjaan dan apartemen-apartemen hanya di pusat kota?

Ketika berjalan di kota Medan contohnya, di sebelah kantor Gubernur dan Walikota masing-masing berdiri pusat perbelanjaan besar. Kewibawaan Pemerintah yang dilambangkan dengan perkantoran sepertinya “terusik” dengan kehadiran mal tersebut. Walaupun aku bukanlah ahli Planologi, namun  menyatukan pusat pemerintahan sekaligus pusat perekonomian dalam satu kawasan barangkali pilihan yang keliru. kenapa? Sebab kondisi politik, ekonomi masih belum stabil. Andaikan terjadi banyak demo oleh masyarakat yang mulai kritis akan kebijakan pemerintah misalkan, tentu kantor Pmerintah akan penuh dengan demonstran dan pengunjung/pembeli di pusat perbelanjaan akan merasa terintimidasi. Atau, saat dimana pengunjung mal banyak sekali berdatangan karena ada diskon, dan hadirnya artis lokal untuk memeriahkan suatu acara misalnya, tentu jalan menjadi macet, banyak berdesak-desakan, sebab pengunjung mal turn overnya sangat tinggi.

Kembali cerita di pesawat, biar nggak bosen melihat lagi lewat jendela dan membayangkan semua masalah-masalah yang aku hadapi tinggal di bawah, namun aku akan segera mendarat…

“Para Penumpang yang kami hormati, kita tiba di Bandara Soekarno Hatta Pukul 19.00”
“Tidak ada perbedaan waktu antara Jogja dan Jakarta”
“Sampai bertemu kembali dalam penerbangan kami selanjutnya”

—end of story—