Tadi malam, Jakarta Barat dan sekitarnya mendapat giliran pemadaman listrik. Saat itu sekitar pukul 22, aku dan adik-adikku sedang ngobrol.
“peet!!” Listrik padam.

“merata ya!” kata tetangga.

Untunglah malam kemarin baru saja diguyur hujan, jadi cuaca agak dingin dan nyamuk juga tidak mengambil kesempatan saat itu, barangkali nyamuk-nyamuk juga males keluar karena dingin. Ada tetangga yang menghidupkan motornya agar ada cahaya lampu motor bisa menerangi rumah, kupikir ide bagusjuga. Teringat semasa di Toboali dulu kalau listrik padam, maka kita yang cowok-cowok meraba-raba dimana korek api/handphone sebagai alat penerang lalu ke garasi untuk menghidupkan genset. Bukan apa-apa, aku takut juga kalau kesetrum ama genset, jadi biasanya aku minta Mas Arco yang nyalain.hihihihihi.

Nah apa yang kami lakukan ketika listrik padam kemarin. Dengan diterangi sebuah lilin, kami duduk di kamar. Seperti malam refleksi aja. Dan masa bodo dengan tetangga, kami nyanyi, ternyata aku menemukan kepuasan tersendiri. Walau suaraku nggak bagus-bagus amat dan cara main gitarku jauh dibandingkan dengan namanya profesional, setidaknya aku merasa senang. Hal yang sudah lama tidak aku lakukan adalah menyanyi (dari hati), terakhir ketika menyanyi di paduan suara Desember lalu. Aku memang bukan penikmat seni yang bagaimana gitu, yang punya penilaian tersendiri atas kualitas suatu karya musik. Tetapi paling nggak sedikitlah, jadi bisa menikmatinya. Biar nggak bosan kali sama hidup ini. Haha.

Salam Manis,