Sudah dua minggu ini berkutat dengan buat paper dan ujian, barulah punya kesempatan untuk posting lagi disini. Selama kurang lebih dua minggu pula aku mengumpulkan artikel, jurnal, buku-buku, browsing internet, untuk menyelesaikan paper tersebut.
Syukurnya selesai, walau setelah membandingkan dengan punya teman-teman, aku merasa kurang “gigit”. topiknya nggak jauh-jauh sama perekonomian Indonesia. Setelah membaca banyak artikel/jurnal dkk, aku merasa ternyata jadi Pemerintah itu sulit banget. Banyak keputusan dilema yang harus diambil, kadangkala hanya permasalahan politis, namun harus diambil karena khawatir akan terjadi konflik.

sebagai contoh, pelaksanaan otonomi daerah. Ternyata proses otonomi daerah ini memakan banyak belanja negara, dan ini cenderung menngkat dari tahun ke tahun. Padahal, parameter untuk memekarkan sebuah daerah menjadi provinsi/kabupaten/kota baru cukup jelas regulasinya di undang-undang. namun, ternyata banyak daerah baru yang terbentuk karena (permintaan?) Dewan yang terhormat di Senayan.

Sebanyak 173 provinsi/kabupaten/kota terbentuk dari hasil pemekaran dalam kurun waktu dari Tahun 1999 s.d. 2007. bisa bayangkan kira-kira berapa duit dari kas negara untuk membiayai daerah baru tersebut. Saya ambil contoh, Kabupaten Bangka Selatan yang baru berdiri sekitar 2003 mendapat Dana Alokasi sekitar Rp300M (setahun). Berapa besarnya untuk daerah pemekaran saja?tinggal dikalikan aja saudara.

Disamping itu, infastruktur yang mendukung perekonomian belum memadai. Pengalamanku dulu sewaktu di Bangka selatan, rata-rata tiap rumah harus menyediakan mesin genset karena sering sekali listrik mati. Padahal jalan kesana cukup bagus, nah siapa yang mau terhenti operasi usahanya karena seringnya listrik mati?. Rumah sakit disana tidak 24jam karena ketidaksediaan listrik, kalau pake genset terus operasional menjadi mahal sekali. Nah, sekarang siapa yang harus bertanggungjawab ketika suatu pemekaran wilayah itu gagal? Tidak ada yang mau!

masalah menjadi runyam, ketika yang menjadi indikator baiknya perekonomian adalah pertumbuhan ekonomi. Indonesia mencatat prestasi tertinggi dalam tingkat pertumbuhan yaitu 6,3% sesuai dengan target. namun, tingkat pengangguran dan kemiskinan masih tinggi. penganngguran masih berkutat pada angka 11% dari angkatan kerja, sementara warga miskin di angka 16-17% dari jumlah seluruh penduduk.

Wah ternyata pusing juga jadi Pemerintah, mending jadi rakyat biasa seperti awak ini yang ngomong doang dengan angka-angka….

|Inllah sedikit “bocoran” paperku|