Isu yang paling hangat akhir-akhir ini adalah Perubahan Iklim. Dimana baru saja dilakukan konferensi yang dilakukan di Bali 3-14 Desember 2007. Salah satu surat kabar jakarta menyatakan kalau konferensi ini memakan biaya sekitar Rp145mlyar, selama kurun waktu di atas.
Kita kurang tahu apa saja perinciannya, Apakah mahal di akomodasi dan penginapan,transportasi peserta, atau udang saku panitia dan peserta, kita tidak perlu bahas itu terlalu jauh.

sekarang, ke depannya bagaimana?Indonesia yang memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia ini harus berperan dalam negosiasi ini, terutama kaitannya dengan kepentingan nasional dan global,

Tidak jarang banyak sekali NGO-NGO yang masuk ke Indonesia, menyarankan supaya dilakukan rehabilitasi terhadap hutan-hutan rusak. dan (barangkali), salah satu persyaratan pinjaman dari World Bank-kah, ADB-kah, yaitu jumlah hutan tropis harus mencapai sekian persen dari total luas wilayah negara ini.

Tapi kalau dicermati, perusahaan-perusahaan yang banyak berperan menyumbang gas karbondioksida dan mengambil luas lahan hutan kita ya negara-negara donor itu. Mulai dari Caltex di Riau, Inco di Soroako,Freeport di Papua, dan ratusan (bahkan ribuan) pabrik-pabrik mereka mengepulkan asap CO2.

Aneh, yang ditekan adalah negara (dalam hal ini Pemerintah) selaku pelaku juga dalam perekonomian. Jepang dan Korea adalah negara tujuan terbesar ekspor LNG, dan “ogah” mengkonversi energi mereka dengan bahan bio. -Dengan alasan ekonomis tentunya-.

Bicara masalah pemanasan global, bicara masalah kepentingan sebenarnya.Sudah jelas kok negara mana penyumbang gas karbondioksida terbesar di negara ini. dimana tanggung jawab mereka melakukan konservasi atas hutan-hutan?kenapa mesti “menekan ” negara-negara dunia ketiga untuk tetap melestarikan hutannya?

Ah….andainya Indonesia punya power!!